Medan, Index Sumut – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengawali pekan ini dengan penguatan, dibuka naik ke level 7.630,75 pada sesi perdagangan pagi. Penguatan ini terjadi di tengah ekspektasi pasar terhadap sederet agenda ekonomi penting dari Amerika Serikat yang akan mewarnai pergerakan pasar global sepanjang pekan ini.
Gunawan Benjamin, Pengamat Pasar Keuangan Sumut, menyebut bahwa dominasi agenda dari AS membuat pasar akan sangat reaktif terhadap data dan kebijakan yang dirilis dalam beberapa hari ke depan.
“Pekan ini akan jadi pekan krusial, karena hampir semua indikator utama ekonomi AS dijadwalkan rilis. Mulai dari PDB, inflasi, data ketenagakerjaan, hingga keputusan suku bunga dan pidato Gubernur The Fed. Semua ini akan membentuk arah pasar secara global,” ujar Gunawan, Senin (28/7).
Selain data makroekonomi, masa tenggat kesepakatan tarif dagang global juga menjadi fokus utama pasar. Tenggat waktu yang jatuh pada 1 Agustus 2025 diperkirakan akan memunculkan kejutan-kejutan kebijakan baru, yang bisa mendorong sentimen risiko di pasar keuangan.
Salah satu yang paling dinanti adalah potensi kesepakatan dagang antara Amerika Serikat dan China. Menurut Gunawan, kesepakatan kedua negara ekonomi terbesar dunia tersebut akan berdampak signifikan, khususnya terhadap pasar keuangan di Asia.
“Jika tercapai, kesepakatan dagang AS-China bisa jadi katalis besar yang mendorong lonjakan di pasar saham Asia dan mengangkat aset berisiko secara global,” tambahnya.
Meskipun mayoritas bursa saham Asia diperdagangkan dalam pola campuran (mixed), IHSG tetap berhasil mencatatkan penguatan. Hal ini menunjukkan kepercayaan investor terhadap prospek pasar domestik, meskipun sentimen global mendominasi.
Di sisi lain, nilai tukar Rupiah justru bergerak melemah ke level Rp16.340 per dolar AS. Padahal, imbal hasil obligasi AS (US Treasury 10 tahun) sedang berada dalam tren turun, ke posisi 4,39%.
“Pelemahan Rupiah hari ini lebih disebabkan oleh sikap wait and see pelaku pasar menjelang keputusan The Fed. Meski yield US Treasury turun, pelaku pasar cenderung defensif dan mengamankan posisi,” jelas Gunawan.
Sementara itu, harga emas dunia juga mencatatkan pelemahan dan diperdagangkan di level US$3.332 per troy ons, atau sekitar Rp1,75 juta per gram. Lemahnya permintaan terhadap emas mencerminkan ketidakpastian arah pasar menjelang pengumuman kebijakan moneter AS.
Gunawan menyarankan agar pelaku pasar tetap waspada terhadap potensi volatilitas tinggi selama sepekan ini, dan terus mencermati arah kebijakan bank sentral global. (R)





