MEDAN, Index Sumut — Harga emas dunia terus menunjukkan tren kenaikan signifikan dalam beberapa tahun terakhir, mencerminkan kekhawatiran pelaku pasar terhadap ketidakpastian ekonomi dan geopolitik global. Bahkan pada awal 2026, harga emas dunia mencetak rekor tertinggi di kisaran lebih dari USD 4.800 per troy ons, mendekati angka psikologis USD 5.000.
Menurut Gunawan Benjamin, Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, fenomena kenaikan harga emas tak semata soal pasar komoditas, tetapi juga cerminan kondisi ekonomi global yang tengah menghadapi tekanan.
“Tren kenaikan harga emas yang berkelanjutan menunjukkan bahwa pelaku pasar global semakin mencari safe haven atau aset pelindung nilai, karena ekspektasi terhadap perlambatan ekonomi dan meningkatnya risiko geopolitik,” ujar Gunawan Benjamin saat dihubungi, Jumat (23/1).
Gunawan menambahkan, sejarah pasar menunjukkan bahwa harga emas biasanya naik saat perekonomian dunia menghadapi ketidakpastian yang tinggi.
“Kenaikan emas seperti ini bisa jadi sinyal bahwa ekonomi dunia dan domestik belum berada pada kondisi yang stabil. Investor dan bank sentral meningkatkan permintaan emas sebagai proteksi terhadap inflasi, pelemahan mata uang, atau gejolak kebijakan moneter,” katanya.
Menurut data pasar komoditas terkini, setelah melewati angka USD 4.800 per ons awal tahun ini, sejumlah prediksi bank investasi global bahkan menempatkan harga target emas hingga lebih dari USD 5.000 per ons pada akhir 2026.
Gunawan juga menyoroti faktor geopolitik yang turut memainkan peran penting. “Ketegangan hubungan antar-negara besar, isu perang dagang, serta konflik yang terus muncul di berbagai kawasan, telah meningkatkan permintaan emas sebagai aset aman, karena banyak investor yang menghindari risiko pasar saham atau aset berimbal hasil rendah,” jelasnya.
Tak hanya politik, aspek ekonomi seperti kebijakan suku bunga bank sentral negara maju juga turut memengaruhi minat terhadap emas. Kebijakan moneter yang longgar dan potensi penurunan suku bunga membuat emas semakin menarik karena biaya peluang memegang emas yang tidak memberikan bunga menjadi lebih rendah dibanding investasi lain.
Meski demikian, Gunawan mengingatkan publik untuk tetap bijak dalam mengambil keputusan investasi. “Emas memang menarik dalam situasi seperti ini, tetapi tentunya setiap keputusan investasi harus disesuaikan dengan profil risiko masing-masing investor,” tutupnya. (R)





