JAKARTA, Index Sumut – Krisis chip memori global mulai memberi tekanan nyata terhadap industri elektronik konsumen. Harga ritel sejumlah produk seperti laptop dan ponsel pintar diperkirakan akan mengalami kenaikan signifikan pada 2026, seiring melonjaknya harga komponen utama di pasar internasional.
Sejumlah pabrikan ponsel, termasuk Vivo dan Asus, mengakui adanya tekanan biaya akibat kondisi tersebut. Kepada CNBC Indonesia, kedua perusahaan menyatakan terpaksa melakukan penyesuaian harga tahun depan, menyusul dinamika global yang sulit dihindari.
Mengutip CNBC Indonesia, Sabtu (7/2/2026), firma riset International Data Corporation (IDC) menilai segmen perangkat harga rendah akan menjadi yang paling terdampak. Pasalnya, margin keuntungan di segmen ini relatif tipis, sehingga produsen kesulitan menyerap lonjakan biaya produksi.
Sementara itu, di segmen menengah hingga atas, produsen masih memiliki ruang manuver untuk menyesuaikan spesifikasi produk guna menekan biaya, meskipun sebagian kenaikan tetap berpotensi dibebankan kepada konsumen.
Lonjakan harga chip memori juga sudah terlihat di pasar ritel domestik. Pantauan CNBC Indonesia di ITC Kuningan pada Januari 2026 menunjukkan harga chip memori jenis DDR4 dan DDR5 telah melonjak signifikan sejak akhir 2025, bahkan ada yang naik hingga empat kali lipat hanya dalam satu bulan.
“Seminggu bisa naik tiga sampai empat kali. Sebulan naik Rp400 ribu sampai Rp600 ribu, ujung-ujungnya bisa tembus 100 persen atau sekitar Rp1 jutaan,” ujar seorang pedagang di ITC Kuningan akhir Januari 2026.
Fenomena serupa terjadi di China. Dikutip dari South China Morning Post (SCMP), distrik Huaqianbei di Shenzhen—yang dikenal sebagai pusat perdagangan elektronik—kini memandang chip memori layaknya “emas” baru.
Pada Januari 2026, sepasang modul DDR5 berkapasitas 32 GB dengan kecepatan 6000 MHz dibanderol hingga 6.878 yuan atau sekitar Rp16 juta. Harga tersebut melonjak hampir lima kali lipat dibandingkan September 2025.
“Dalam 10 tahun saya bekerja di industri ini, ini adalah lonjakan harga paling tinggi yang pernah saya lihat,” ujar Ye, seorang perakit komputer untuk individu dan korporasi, seperti dikutip SCMP.
China Ambil Kesempatan
Di tengah krisis pasokan chip memori global, produsen asal China justru melihat peluang untuk memperluas kapasitas produksi. Laporan Nikkei menyebutkan, dua raksasa chip China, Chanxin Memory Technologies (CXMT) dan Yangtze Memory Technologies (YMTC), tengah menyiapkan ekspansi besar-besaran.
CXMT yang berfokus pada produksi DRAM berencana membangun fasilitas manufaktur baru di Shanghai. Kapasitasnya diperkirakan dua hingga tiga kali lipat lebih besar dibandingkan pabrik CXMT di Hefei yang saat ini beroperasi sekitar 180.000 wafer per bulan (wpm).
Meski teknologi CXMT masih berada sekitar satu dekade di belakang Samsung, SK Hynix, dan Micron—dengan proses produksi tercanggih di level 16 nanometer—perusahaan ini terus mempercepat pengembangan.
Pemasangan peralatan di fasilitas Shanghai ditargetkan rampung pada semester II 2026, dengan produksi dimulai pada 2027, menurut Electronics Weekly, Rabu (4/2/2026).
Saat ini, CXMT juga mengoperasikan pabrik di Beijing dengan kapasitas sekitar 120.000 wpm. Produk tercanggihnya masih LP-DDR4, namun perusahaan sedang menyiapkan produksi LP-DDR5. Berdasarkan data Yole, CXMT menempati posisi keempat produsen DRAM global dengan pangsa pasar 11,1 persen, yang diproyeksikan meningkat menjadi 13,9 persen pada 2027.
Sementara itu, YMTC berencana membangun fasilitas ketiga di Wuhan yang akan memproduksi NAND dan DRAM dengan komposisi seimbang. Perusahaan juga disebut tengah menyiapkan produksi high bandwidth memory (HBM), jenis chip yang banyak digunakan di pusat data berbasis kecerdasan buatan (AI).
Total kapasitas dua pabrik YMTC di Wuhan saat ini mencapai 140.000–150.000 wpm dan ditargetkan meningkat menjadi 200.000 wpm pada tahun ini. Pabrik ketiganya diproyeksikan menambah kapasitas awal 30.000 wpm, yang akan diperluas hingga 100.000 wpm.
Langkah cepat China dalam merespons krisis chip global dinilai bukan hal mengejutkan. Sebelumnya, saat menghadapi pembatasan ekspor chip AI dan peralatan manufaktur canggih dari Amerika Serikat, China juga langsung mempercepat pengembangan teknologi chip secara mandiri. (cnbci)





