MEDAN, Index Sumut – Penguatan sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat (AS) memicu tekanan di pasar keuangan global, termasuk Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, hingga harga emas terpantau kompak melemah pada sesi perdagangan pagi.
IHSG sempat dibuka menguat di level 8.317. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. Hingga pertengahan sesi pagi, IHSG berbalik arah dan ditransaksikan di bawah level psikologis 8.300. Sementara itu, mayoritas bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan menguat.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai pelemahan IHSG tidak terlepas dari sentimen global, khususnya dari Amerika Serikat.
“Pasar merespons positif data ketenagakerjaan AS yang lebih baik dari ekspektasi. Namun bagi pasar negara berkembang, ini justru menjadi sentimen negatif karena mengurangi peluang pemangkasan suku bunga The Fed dalam waktu dekat,” ujar Gunawan.
Data terbaru menunjukkan nonfarm payroll AS pada Januari naik menjadi 130 ribu, jauh di atas ekspektasi 66 ribu. Selain itu, tingkat pengangguran turun dari 4,4% menjadi 4,3%. Kondisi ini memperkuat sinyal bahwa pasar tenaga kerja AS masih solid.
Menurut Gunawan, membaiknya data tersebut mengikis spekulasi pemangkasan suku bunga acuan oleh Bank Sentral AS (The Fed). Dampaknya, imbal hasil (yield) US Treasury mengalami kenaikan dan indeks dolar AS (USD Index) menguat ke level 96,79.
“Ketika data ekonomi AS solid, dolar AS cenderung menguat. Ini menekan mata uang emerging market termasuk rupiah,” jelasnya.
Pada sesi perdagangan pagi, rupiah terpantau melemah ke level Rp16.820 per dolar AS. Gunawan memperkirakan rupiah dan IHSG masih berpotensi bergerak di zona merah selama sentimen eksternal masih dominan.
Tak hanya pasar saham dan mata uang, harga emas juga mengalami koreksi. Harga emas dunia turun ke kisaran US$5.065 per ons troy, setelah sehari sebelumnya sempat diperdagangkan di atas US$5.100 per ons troy. Meski demikian, harga emas domestik relatif stabil di kisaran Rp2,75 juta per gram.
“Penguatan dolar AS membuat harga emas terkoreksi. Emas cenderung tertekan ketika dolar dan yield obligasi AS menguat,” kata Gunawan.
Ia menambahkan, arah pergerakan pasar selanjutnya akan sangat ditentukan oleh ekspektasi kebijakan moneter The Fed serta perkembangan data ekonomi lanjutan dari AS.
“Selama ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama, tekanan terhadap rupiah, IHSG, dan emas masih berpotensi berlanjut dalam jangka pendek,” pungkasnya. (R)





