MEDAN, Index Sumut – Sinyal dari bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), yang membuka peluang menahan suku bunga acuan, memicu tekanan di pasar keuangan domestik. Rabu (18/2) pagi, Rupiah dan harga emas terpantau melemah, sementara pelaku pasar menanti arah kebijakan moneter Bank Indonesia (BI).

Pada sesi pembukaan perdagangan hari ini, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat menguat ke level 8.235. Penguatan tersebut terjadi di tengah kinerja positif mayoritas bursa Asia sejak awal pekan. Minimnya sentimen regional membuat IHSG cenderung mengikuti pergerakan bursa global.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa fokus pelaku pasar saat ini tertuju pada sejumlah agenda penting, mulai dari keputusan suku bunga BI hingga rilis risalah rapat kebijakan moneter The Fed (FOMC Minutes) dan data ekonomi Amerika Serikat lainnya.

“Sejauh ini Bank Indonesia diproyeksikan masih akan mempertahankan suku bunga acuan di level 4,75 persen. Namun arah kebijakan global, khususnya dari The Fed, tetap menjadi penentu utama pergerakan pasar,” ujar Gunawan, Rabu (18/2).

Menurutnya, spekulasi yang berkembang menunjukkan The Fed masih berpeluang menunda pemangkasan suku bunga acuannya. Kondisi tersebut membuat dolar AS tetap kuat dan menekan mata uang negara berkembang, termasuk rupiah.

Rupiah pada perdagangan hari ini tercatat melemah ke level Rp16.865 per dolar AS. Gunawan menilai tekanan terhadap rupiah berpotensi membebani IHSG dalam jangka pendek.

“IHSG berpeluang bergerak dalam rentang 8.170 hingga 8.290. Sementara rupiah diperkirakan akan ditransaksikan pada kisaran Rp16.840 sampai Rp16.880 per dolar AS,” jelasnya.

Di sisi lain, harga emas dunia juga mengalami koreksi. Emas ditransaksikan di kisaran 4.897 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,66 juta per gram. Pelemahan terjadi setelah sejumlah pejabat The Fed memberi sinyal bahwa suku bunga acuan bisa saja ditahan lebih lama.

“Ketika ekspektasi pemangkasan bunga memudar, harga emas biasanya tertekan karena imbal hasil aset berbunga menjadi lebih menarik. Ini yang sedang terjadi saat ini,” tambah Gunawan.

Ia menegaskan, arah pasar dalam beberapa hari ke depan akan sangat ditentukan oleh keputusan Bank Indonesia serta perkembangan data ekonomi Amerika Serikat. Pelaku pasar pun cenderung bersikap wait and see sembari mencermati dinamika global. (R)

Share: