MEDAN, Index Sumut – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali meningkat menyusul sikap hawkish bank sentral Amerika Serikat, Federal Reserve (The Fed), dalam risalah rapat terbaru atau FOMC Minutes. Pasar menilai peluang pemangkasan suku bunga dalam waktu dekat semakin kecil.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan bahwa dalam risalah tersebut terlihat adanya dua pandangan berbeda di internal The Fed. Namun secara umum, kecenderungannya masih mengarah pada penundaan pelonggaran kebijakan moneter.
“Walaupun ada perbedaan pandangan, sinyal dominan yang ditangkap pasar adalah The Fed belum akan terburu-buru memangkas suku bunga. Pelonggaran baru mungkin terjadi di akhir tahun, itu pun jika data ekonomi mendukung,” ujar Gunawan, Kamis (19/2/2026).
Menurutnya, nada hawkish The Fed dalam sejumlah pertemuan terakhir membuat pasar global lebih berhati-hati, khususnya di emerging markets seperti Indonesia.
Pada perdagangan pagi, nilai tukar rupiah terpantau melemah di level Rp16.920 per dolar AS dan berpeluang menembus level psikologis Rp17.000 per dolar AS jika tekanan berlanjut.
“Sikap The Fed sejauh ini menjadi faktor utama yang menekan rupiah. Jika pasar semakin yakin suku bunga AS akan bertahan lebih lama, maka tekanan terhadap rupiah bisa berlanjut dan menembus 17 ribu,” jelasnya.
Di sisi lain, harga emas dunia justru bergerak menguat. Pada sesi perdagangan pagi, emas ditransaksikan di level US$4.974 per ons troy atau setara sekitar Rp2,71 juta per gram.
Gunawan menilai, meskipun The Fed masih bernada hawkish, emas tetap mendapatkan dukungan dari sentimen ketidakpastian global dan kebutuhan lindung nilai (safe haven).
“Emas memang berpeluang mengalami tekanan jangka pendek jika ekspektasi suku bunga tinggi menguat. Tetapi selama ketidakpastian ekonomi global masih ada, emas tetap diminati sebagai aset lindung nilai,” katanya.
Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan masih mampu bergerak positif di level 8.357, seiring dengan membaiknya mayoritas bursa saham Asia. Namun, pelemahan rupiah dinilai dapat menjadi beban tersendiri bagi pergerakan indeks.
Gunawan memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 8.300 hingga 8.370 pada perdagangan hari ini, dengan potensi volatilitas yang tetap tinggi mengikuti dinamika global.
“Pasar domestik masih akan sangat dipengaruhi oleh perkembangan kebijakan The Fed dan pergerakan dolar AS. Investor perlu mencermati data ekonomi AS berikutnya sebagai penentu arah kebijakan selanjutnya,” pungkasnya. (R)





