MEDAN, Index Sumut — Wali Kota Medan, Rico Tri Putra Bayu Waas melayangkan ultimatum tegas kepada seluruh camat se-Kota Medan. Ia menegaskan tak boleh lagi ada sampah berserakan di wilayah masing-masing kecamatan.
Penegasan itu disampaikan Rico saat memimpin rapat evaluasi pelaksanaan Satuan Pemantauan dan Perawatan Infrastruktur Kota (SAPA KOTA) di Balai Kota Medan, Rabu (18/2/2026).
“Semua camat, jangan banyak alasan lagi. Mulai saat ini jangan ada sampah yang berserakan,” tegasnya di hadapan jajaran pimpinan perangkat daerah.
Program SAPA KOTA sendiri merupakan inisiatif Pemko Medan yang memanfaatkan grup WhatsApp sebagai sarana pelaporan harian persoalan infrastruktur. Melalui sistem ini, setiap permasalahan di lapangan dipantau secara langsung oleh pimpinan OPD dan camat, kemudian ditindaklanjuti secara cepat, terukur, dan akuntabel.
Dalam rapat tersebut turut hadir Wakil Wali Kota Medan H. Zakiyuddin Harahap, Sekda Wiriya Alrahman, staf ahli, asisten, pimpinan OPD, serta para camat.
Rico menegaskan, persoalan kebersihan tidak hanya menjadi perhatian di wilayah pinggiran, tetapi juga di pusat kota. Ia meminta seluruh jajaran berkomitmen menjaga wajah Kota Medan tetap bersih.
“Hari ini kita berkomitmen bersama, tidak ada lagi sampah yang berserakan. Paham!” ujarnya dengan nada tinggi.
Tak hanya camat, Rico juga menginstruksikan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) untuk memperkuat pengawasan dan kontrol, baik sebelum maupun setelah proses pembersihan dilakukan.
“Tanggung jawab DLH juga harus tetap mengontrol permasalahan sampah ini. Sampah berserakan bukan hanya urusan kecamatan, tetapi juga DLH sebagai induk lingkungan hidup di Kota Medan,” katanya.
Selain masalah sampah, Rico turut menyoroti laporan jalan rusak, lampu penerangan jalan umum (PJU), hingga lampu lalu lintas. Ia mengakui sudah ada progres dari laporan yang masuk melalui SAPA KOTA, meski belum maksimal.
“Permasalahan yang dilaporkan sudah mulai ditindaklanjuti, seperti PJU dan lampu lalu lintas. Tapi jangan sampai perbaikan dilakukan berulang karena pekerjaan yang tidak maksimal,” tegasnya.
Untuk penanganan jalan rusak dan infrastruktur lainnya, ia meminta perangkat daerah yang bertanggung jawab memantau wilayah tertentu agar menyampaikan laporan harian. Dengan demikian, dinas terkait, khususnya SDABMBK, dapat segera turun tangan menyelesaikan persoalan di lapangan.
Menurut Rico, SAPA KOTA bukan sekadar grup komunikasi, melainkan ruang kolaborasi antar-OPD agar penanganan kota tidak terpusat pada satu dinas saja.
“Program ini menjadi ruang interaksi antar OPD agar saling menjaga dan memperhatikan kota kita. Artinya seluruh perangkat daerah dan camat saling membantu membangun Kota Medan,” ujarnya.
Untuk memastikan program berjalan efektif, Rico menginstruksikan Bappeda agar memberikan peringatan kepada OPD maupun camat yang tidak aktif melaporkan kondisi wilayahnya setiap hari.
“Kalau ada OPD dan camat yang tidak memberikan laporan setiap hari, saya minta berikan warning,” tandasnya.
Sementara itu, Wakil Wali Kota H. Zakiyuddin Harahap menyoroti tumpukan sampah di sekitar Stadion Teladan Medan. Ia menilai kondisi tersebut berpotensi merusak citra kota, terlebih stadion tersebut tengah dalam proses revitalisasi.
“Stadion Teladan ini ikon Kota Medan yang sebentar lagi selesai direvitalisasi. Jika ada tumpukan sampah di sekitarnya, tentu sangat tidak layak dan merusak estetika,” ujarnya.
Ia meminta DLH segera mencari solusi agar tempat pembuangan sampah sementara di sekitar stadion tidak dibiarkan berlarut-larut.
Selain itu, Zakiyuddin juga menyinggung persoalan hewan ternak seperti babi dan kambing yang berkeliaran di sekitar permukiman warga. Menurutnya, kondisi tersebut selain melanggar aturan juga mengganggu aktivitas masyarakat.
Dengan ultimatum ini, Pemko Medan berharap pengawasan melalui SAPA KOTA dapat benar-benar menjadi instrumen efektif untuk memperbaiki wajah kota — bersih, tertib, dan responsif terhadap setiap persoalan di lapangan. (R)





