MEDAN, Index Sumut – Kenaikan harga minyak mentah dunia kembali menekan pasar keuangan global. Dampaknya mulai terasa pada perdagangan pagi ini, Kamis (12/3), di mana nilai tukar rupiah, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), hingga harga emas bergerak melemah di tengah meningkatnya ketidakpastian pasar.
Harga minyak mentah dunia masih bertahan di level tinggi meskipun sejumlah negara mencoba menambah pasokan ke pasar. Badan energi internasional, International Energy Agency (IEA), dilaporkan telah melepas sekitar 400 juta barel cadangan minyak, sementara Amerika Serikat juga mengucurkan sekitar 175 juta barel dari cadangan strategisnya. Langkah ini dilakukan di tengah ketegangan geopolitik yang belum mereda antara Iran dan Amerika Serikat.
Namun tambahan pasokan tersebut belum mampu menahan laju kenaikan harga minyak. Minyak mentah jenis Brent Crude Oil pada perdagangan pagi ini diperdagangkan di kisaran 98 dolar AS per barel dan nyaris menembus level psikologis 100 dolar AS per barel.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai kenaikan harga minyak menjadi salah satu faktor utama yang memicu tekanan di pasar keuangan kawasan Asia.
“Lonjakan harga minyak membuat pasar kembali khawatir terhadap potensi kenaikan inflasi global. Kondisi ini biasanya direspon dengan kebijakan suku bunga yang tetap tinggi, sehingga membuat pasar saham cenderung terkoreksi,” ujarnya.
Tekanan tersebut juga tercermin pada kinerja Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG). Setelah sempat dibuka menguat di level 7.398, indeks kembali berbalik arah dan masuk ke zona merah mengikuti pelemahan mayoritas bursa saham di Asia.
Di pasar valuta asing, nilai tukar Rupiah juga mengalami tekanan dan diperdagangkan melemah di kisaran Rp16.880 per dolar AS.
Sementara itu, harga emas dunia juga mengalami koreksi. Logam mulia tersebut diperdagangkan di kisaran 5.175 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,82 juta per gram.
Menurut Gunawan, pergerakan emas saat ini berada dalam tarik-menarik sentimen antara kekhawatiran inflasi dan ekspektasi kebijakan suku bunga global.
“Lonjakan harga energi memunculkan kekhawatiran inflasi yang lebih tinggi. Namun di sisi lain, jika bank sentral mempertahankan suku bunga tinggi, hal itu justru bisa menahan kenaikan harga emas,” jelasnya.
Meski demikian, ia menilai prospek emas secara fundamental masih cukup kuat. Hal ini didorong oleh langkah sejumlah bank sentral dunia yang terus menambah cadangan emas di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global.
“Akumulasi emas oleh bank sentral masih berlangsung, walaupun volumenya tidak sebesar tahun sebelumnya. Ini menunjukkan bahwa emas tetap dipandang sebagai aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global,” pungkas Gunawan. (R)





