JAKARTA, Index Sumut Dalam sepekan terakhir 9–13 Maret 2026, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi sebesar -5,91% di tengah meningkatnya tekanan dari sentimen global dan domestik, dengan aliran dana asing mencatatkan net sell sebesar Rp1,2 triliun di pasar reguler.

Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas (IPOT), Hari Rachmansyah menegaskan, pelemahan ini terutama dipicu oleh meningkatnya tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran yang masih berlanjut dan memicu lonjakan harga komoditas energi seperti minyak dan batu bara, sehingga meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi tekanan inflasi global serta kemungkinan kebijakan moneter global yang lebih ketat dalam jangka waktu lebih lama.

Dari sisi domestik, pasar juga mencermati pernyataan pemerintah melalui Menteri Keuangan yang mulai mempertimbangkan penyesuaian atau pengurangan beberapa pos belanja APBN guna menjaga defisit fiskal tetap berada di bawah batas 3% terhadap PDB.

“Kombinasi ketidakpastian global serta kehati-hatian kebijakan fiskal tersebut mendorong investor cenderung mengambil posisi risk-off, sehingga menekan pergerakan IHSG sepanjang pekan lalu,” tegasnya.

Proyeksi dan Sentimen 2 Hari Perdagangan Bursa

Menjelang pekan perdagangan sepekan kedepan yang hanya akan berlangsung selama 2 hari bursa 16-17 Maret 2026 karena libur panjang Nyepi dan Idul Fitri, pergerakan indeks utama Wall Street seperti S&P 500, Dow Jones Industrial Average, dan Nasdaq Composite diperkirakan masih berada di bawah tekanan seiring kontrak futures indeks AS yang masih bergerak melemah, mengindikasikan potensi lanjutan tekanan jual pada awal pekan.

Sentimen negatif terutama dipicu oleh meningkatnya ketidakpastian pasokan energi global setelah harga minyak West Texas Intermediate terus melonjak menyusul kebijakan Iran yang tetap menutup Strait of Hormuz sejak akhir Februari, jalur vital bagi distribusi minyak dunia.

Pernyataan pemimpin baru Iran yang menjadikan penutupan selat tersebut sebagai instrumen tekanan terhadap negara-negara lawan semakin meningkatkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan suplai energi global dan dampaknya terhadap inflasi.

“Meski demikian, perkembangan terbaru menunjukkan adanya nuansa berbeda setelah Menteri Luar Negeri Iran, Abbas Araghchi, menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap ‘terbuka, bagi kapal-kapal yang bukan berasal dari Amerika Serikat, Israel, maupun sekutunya,” jelas Hari.

Ia meyakini dinamika geopolitik ini membuat investor global cenderung mempertahankan sikap risk-off dalam jangka pendek, sehingga volatilitas pasar saham AS diperkirakan masih akan tetap tinggi selama ketidakpastian geopolitik dan stabilitas pasokan energi global belum menunjukkan tanda mereda.

Sementara itu sentimen pasar domestik diperkirakan akan dipengaruhi oleh dinamika fiskal dan kebijakan moneter di tengah kenaikan harga komoditas energi global. Lonjakan harga migas dan batu bara berpotensi meningkatkan tekanan terhadap fiskal pemerintah, sehingga mendorong kebutuhan langkah cepat untuk menjaga defisit anggaran tetap terkendali.

Apabila defisit fiskal terus melebar, beberapa risiko yang dapat muncul antara lain meningkatnya kebutuhan pembiayaan utang pemerintah, tekanan terhadap imbal hasil obligasi negara, serta potensi pelemahan nilai tukar akibat meningkatnya persepsi risiko investor terhadap stabilitas fiskal.

Selain itu, pelebaran defisit juga dapat mempersempit ruang stimulus fiskal di tengah ketidakpastian global. Dari sisi kebijakan moneter, pelaku pasar juga akan mencermati hasil Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada pekan depan, di mana secara konsensus bank sentral diperkirakan masih akan mempertahankan suku bunga acuan BI-Rate guna menjaga stabilitas nilai tukar dan inflasi di tengah meningkatnya tekanan eksternal.

“Kombinasi dinamika fiskal dan arah kebijakan moneter tersebut diperkirakan akan menjadi faktor utama yang membentuk sentimen dan arah pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan dalam jangka pendek,” terang Hari.

Prediksi IHSG dan Rekomendasi IPOT

Ia pun memprediksi pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan akan bergerak mixed dengan kecenderungan melemah, seiring masih dominannya sentimen eksternal yang membayangi pasar. Ketidakpastian global masih dipicu oleh eskalasi tensi geopolitik antara Amerika Serikat dan Iran, yang hingga saat ini belum menunjukkan tanda de-eskalasi atau titik terang menuju perdamaian.

“Selama konflik tersebut masih berlangsung, volatilitas pasar global diperkirakan tetap tinggi karena investor cenderung mengadopsi sikap risk-off. Dari sisi domestik, pelaku pasar juga mencermati arah kebijakan fiskal pemerintah terkait upaya menjaga defisit APBN agar tetap terkendali, yang menjadi indikator penting bagi investor asing dan domestik dalam menilai stabilitas makroekonomi Indonesia,” ujarnya.

Ia menambahkan, selain itu faktor musiman menjelang libur panjang Lebaran berpotensi membuat aktivitas transaksi pasar relatif lebih terbatas, dengan sebagian investor cenderung menahan diri untuk mengambil posisi baru hingga periode libur berakhir.

Dalam kondisi pasar yang masih diliputi ketidakpastian ini, investor disarankan untuk lebih selektif dalam memilih saham, memprioritaskan emiten dengan fundamental kuat, arus kas stabil, serta eksposur yang relatif defensif terhadap volatilitas global.

“Strategi smart money wait and see, menjaga porsi kas yang lebih tinggi, serta melakukan akumulasi bertahap pada area support dapat menjadi pendekatan yang lebih prudent sambil menunggu kejelasan perkembangan geopolitik global dan arah kebijakan fiskal domestik,” tegasnya.

Merespons dinamika market saat ini, IPOT yang telah meluncurkan x RDN, solusi smart money berupa tabungan digital berbasis pasar modal yang menawarkan potensi imbal hasil tinggi sekitar ±2% dengan sistem keamanan berlapis agar dana nganggur (idle) tetap produktif, merekomendasikan trading pada saham-saham uptrend.

 1. BUY PTBA (Entry: 2910, Target Price (TP): 3130, Stop Loss (SL): 2870). Secara teknikal, PTBA masih bergerak uptrend didukung dengan aliran dana asing yang besar di pekan kemarin sejumlah 137 Bio. PTBA masih bisa melanjutkan kenaikannya seiring dengan sentimen kenaikan harga batu bara global.

 2. BUY INDY (Entry: 3620, Target Price (TP): 4150, Stop Loss (SL): 3370). Secara teknikal, INDY saat ini masih bergerak dalam uptrend channelnya dan berada dalam area support. INDY berpotensi mengalami reversal setelah menguat di hari jumat.

 3. BUY LSIP (Entry: 1290, Target Price (TP): 1330, Stop Loss (SL): 1260). Secara teknikal LSIP bergerak uptrend dengan potensi melanjutkan kenaikannya setelah di hari jumat bertahan di atas EMA-5 dan potensi akumulasi asing sebesar 445 Bio yang terjadi sejak awal Maret.

 4. Buy Obligasi FR106 dan FR0101. Instrumen pendapatan tetap juga menarik untuk diperhatikan pekan ini. Bagi investor yang ingin memperoleh imbal hasil maksimal, seri FR106 dengan YTM 6.81% dapat menjadi pilihan utama karena menawarkan return kompetitif dengan tenor panjang. Sementara itu, untuk investor yang lebih mengutamakan fleksibilitas dengan tenor jangka pendek, seri FR0101 dengan YTM 5.81% tetap memberikan peluang menarik. (R)

Share: