MEDAN, Index Sumut – Tekanan terhadap pasar keuangan domestik kembali berlanjut pada perdagangan hari ini, Kamis (21/5). Nilai tukar rupiah yang sempat menguat pada sesi sebelumnya kini kembali tertekan dan diperdagangkan di kisaran Rp17.660 per dolar Amerika Serikat (AS).
Pelemahan rupiah turut diikuti koreksi Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang kembali bergerak di zona merah.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pelaku pasar saat ini kembali memusatkan perhatian pada perkembangan geopolitik global, khususnya dinamika hubungan antara AS dan Iran yang masih memunculkan ketidakpastian besar di pasar keuangan dunia.
“Pasar masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Pernyataan Presiden AS bahwa negosiasi dengan Iran memasuki tahap akhir memang sempat memberi harapan positif, namun investor masih menunggu kepastian hasil akhirnya,” ujar Gunawan, Kamis (21/5).
Menurutnya, meskipun harga minyak mentah dunia mulai bergerak turun ke kisaran 98 hingga 105 dolar AS per barel, tekanan terhadap aset berisiko belum sepenuhnya mereda. Penurunan harga minyak sebenarnya menjadi sentimen positif bagi pasar saham Asia karena dapat mengurangi tekanan inflasi global.
Mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi tercatat menguat. IHSG bahkan sempat dibuka di zona hijau sebelum akhirnya kembali melemah akibat tekanan jual yang masih cukup besar.
“Pelemahan rupiah menjadi sinyal bahwa pasar masih berada dalam fase wait and see. Investor asing masih cenderung berhati-hati karena risiko global belum sepenuhnya hilang,” katanya.
Selain faktor eksternal, Gunawan menilai pasar juga memberi respons negatif terhadap rencana pemerintah membentuk Danantara Sumberdaya Indonesia sebagai perusahaan BUMN eksportir tunggal. Kebijakan tersebut dinilai memunculkan kekhawatiran baru di kalangan pelaku pasar terkait mekanisme perdagangan dan iklim usaha ekspor nasional.
“Pasar melihat kebijakan eksportir tunggal ini sebagai sesuatu yang berpotensi mengubah mekanisme pasar. Kekhawatiran investor muncul karena ada potensi meningkatnya kontrol pemerintah dalam aktivitas ekspor strategis,” jelasnya.
Ia menambahkan, tekanan terhadap IHSG dalam beberapa hari terakhir tidak hanya dipicu sentimen global, tetapi juga berasal dari kekhawatiran domestik terhadap arah kebijakan ekonomi pemerintah.
Gunawan memperkirakan IHSG masih berpeluang menguji level support di kisaran 6.200 pada perdagangan hari ini. Sementara nilai tukar rupiah diproyeksikan bergerak dalam rentang Rp17.600 hingga Rp17.700 per dolar AS.
Di sisi lain, harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan tajam. Harga emas kini diperdagangkan di atas level 4.500 dolar AS per ons troy atau sekitar 4.547 dolar AS per ons troy.
“Penguatan emas menunjukkan bahwa investor global kembali mencari aset aman di tengah ketidakpastian pasar. Jika dikonversi ke rupiah, harga emas saat ini berada di kisaran Rp2,59 juta per gram,” pungkas Gunawan. (R)





