JAKARTA, Index Sumut Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) di akhir pekan lalu (12 Juni 2026) ditutup menguat di zona hijau di level 6007 atau menguat sebanyak 7,38%, setelah di pekan sebelumnya 5 Juni 2026 sempat melemah -8,69%.

Di awal pekan lalu IHSG memang sempat melemah, jelas Equity Analyst PT Indo Premier Sekuritas, Imam Gunadi, namun berhasil di tutup di zona hijau yang dipengaruhi oleh banyak faktor, baik global maupun domestik.

Imam pun merinci faktor global ada rilis data inflasi Amerika Serikat yang naik menjadi 4,2% yoy pada Mei 2026, lebih tinggi dibandingkan 3,8% yoy pada bulan sebelumnya dan menjadi level tertinggi sejak April 2023. Kenaikan inflasi terutama didorong oleh lonjakan harga energi akibat konflik yang melibatkan Iran yang turut mendorong kenaikan harga bahan bakar dan biaya transportasi.

“Meskipun inflasi yang lebih tinggi berpotensi membatasi ruang pemangkasan suku bunga oleh The Fed, pasar relatif merespons data tersebut secara positif,” jelas Imam Gunadi, Senin (15/6).

Selanjutnya ada sentimen revisi turun proyeksi pertumbuhan ekonomi global oleh World Bank. Dalam laporan Global Economic Prospects edisi Juni 2026, World Bank memangkas proyeksi pertumbuhan ekonomi global tahun 2026 menjadi 2,5%, lebih rendah dibandingkan proyeksi sebelumnya sebesar 2,6%.

Revisi tersebut didorong oleh meningkatnya risiko geopolitik di Timur Tengah, namun kondisi terkini AS dan Iran tengah membahas rancangan kesepakatan yang mencakup pencabutan sanksi terhadap ekspor minyak Iran serta pembukaan kembali Selat Hormuz, jalur pelayaran yang menjadi salah satu titik vital perdagangan energi dunia.

“Perkembangan tersebut meredakan kekhawatiran pasar terhadap risiko gangguan pasokan minyak global yang sebelumnya sempat mendorong lonjakan harga energi,” tandas Imam.

Selain sentimen global, ada pula sentimen dari domestik, dimana Bank Indonesia melaporkan cadangan devisa Indonesia pada Mei 2026 turun menjadi US$144,9 miliar dari US$146,2 miliar pada bulan sebelumnya. Meski menurun, posisi cadangan devisa tersebut masih tergolong kuat karena setara dengan 5,6 bulan impor (atau 5,5 bulan impor dan pembayaran utang luar negeri), yang berarti masih jauh di atas standar kecukupan internasional sebesar tiga bulan impor.

Selain itu, Bank Indonesia secara mengejutkan menaikkan suku bunga acuan (BI Rate) sebesar 25 bps menjadi 5,50% dalam rapat di luar jadwal pada 9 Juni 2026. Langkah agresif ini diambil sebagai respons langsung untuk meredam tekanan eksternal yang memicu pelemahan nilai tukar Rupiah.

Sentimen domestik lainnya datang dari Danantara yang memberikan klarifikasi mengenai implementasi kebijakan ekspor satu pintu melalui PT Danantara Sumberdaya Indonesia (DSI). Danantara menegaskan bahwa DSI tidak akan berperan sebagai trading house ataupun mengambil margin perdagangan.

Klarifikasi dari pihak Danantara tersebut berhasil meredakan kekhawatiran para pelaku pasar yang sebelumnya mencemaskan potensi gangguan pada arus kas, kontrak jangka panjang, serta volume ekspor komoditas utama Indonesia. Dengan berkurangnya ketidakpastian regulasi ini, sentimen pasar terhadap saham-saham sektor komoditas serta emiten yang berorientasi ekspor kini cenderung bergerak membaik dan kembali kondusif.

Sementara itu dari sisi sektoral, data Gaikindo menunjukkan tren positif pada penjualan mobil nasional per Mei 2026 yang mencapai 69.219 unit atau tumbuh 14,0% yoy, menandai pertumbuhan dua bulan berturut-turut. Secara kumulatif, penjualan mobil sepanjang lima bulan pertama tahun 2026 juga meningkat 12,8% yoy menjadi 359.015 unit.

Sebaliknya, sektor ritel justru mencatatkan kinerja berbeda dimana penjualan ritel pada April 2026 mengalami kontraksi sebesar 3,7% yoy, berbalik arah dari pertumbuhan sebesar 3,4% yoy pada bulan sebelumnya.

Menariknya, di akhir pekan kemarin juga asing sudah mulai kembali mencatatkan pembelian sebanyak Rp287,4 miliar, namun angka ini tentu tidak dapat atau tidak bisa mewakili apakah kedepan IHSG akan rebound atau asing akan mulai mencatatkan pembelian secara konsisten.

Proyeksi dan Rekomendasi IPOT Pekan Ini

Berbicara tentang market pada sepekan ke depan yang akan berlangsung selama 4 hari karena ada libur Tahun Baru Islam 1448 H, pelaku pasar wajib mencermati sejumlah rilis data menarik seperti rilis data Industrial Production China untuk mengukur kekuatan pemulihan ekonomi dan aktivitas manufaktur negara tersebut. Data ini sangat krusial bagi perekonomian Indonesia karena China merupakan mitra dagang utama sekaligus tujuan ekspor nonmigas terbesar nasional.

Sementara itu dari Jepang, fokus investor tertuju pada keputusan suku bunga Bank of Japan (BoJ) yang diperkirakan akan naik sebesar 25 bps menjadi 1,00% dari sebelumnya 0,75%. Selain keputusan suku bunga, pelaku pasar juga akan mengamati data inflasi Jepang untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter ke depan.

Ekspektasi sikap hawkish dari BoJ ini didorong oleh meningkatnya risiko inflasi di dalam negeri akibat lonjakan harga energi global yang dipicu oleh ketegangan geopolitik di Timur Tengah. Jika BoJ kembali menaikkan suku bunga atau memberi sinyal pengetatan moneter yang agresif, investor berpotensi menutup posisi carry trade mereka, yang dapat memicu volatilitas tinggi di pasar keuangan global, termasuk pasar negara berkembang seperti Indonesia.

Sementara itu terkait IHSG, dari titik tertingginya hingga akhir pekan lalu Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak dalam tren turun (downtrend). Hal ini terlihat dari struktur pergerakan yang masih membentuk lower low (LL) dan lower high (LH). Meski demikian, penurunan IHSG dari titik tertingginya hingga pekan lalu berpotensi telah membentuk lima gelombang (impulsive wave), sehingga tekanan tren turun berpeluang mulai mereda.

“Dalam time horizon yang lebih pendek, atau sejak pertengahan April, pergerakan IHSG membentuk pola extension dan berpotensi telah menyelesaikan lima gelombang. Skenario ini akan terkonfirmasi apabila IHSG berhasil menembus level resistance di 6.286,” ujarnya.

Namun, jika mencermati dua candle terakhir, terlihat bahwa pergerakan IHSG mulai kehilangan momentum. Candle pertama membentuk pola spinning top, yang mengindikasikan adanya keragu-raguan di kalangan pelaku pasar.

Pada candle terakhir, IHSG sempat menembus (breakout) area spinning top sebelumnya selama perdagangan berlangsung, sehingga memunculkan optimisme di kalangan pelaku pasar. Namun, pada akhirnya IHSG ditutup dengan membentuk pola shooting star dan gagal menembus area resistance spinning top, yang kembali memunculkan keraguan di pasar.

“Dengan kondisi tersebut, secara teknikal IPOT melihat IHSG pada pekan ini berpotensi bergerak bervariasi dengan kecenderungan menguat apabila berhasil breakout dari pola shooting star. Sebaliknya, IHSG berpotensi melemah apabila mengalami breakdown dari pola tersebut. Adapun level resistance berada di 6.286, sementara level support berada di 5.695,” terang Imam.

Merespons dinamika market yang ada, IPOT yang telah dilengkapi fitur LADI (Live Action Done Indicator) dengan data akumulasi dan distribusi saham secara real-time dan dirancang untuk investor ritel agar bisa memantau tekanan beli/jual secara langsung tanpa jeda serta membantu mendeteksi pergerakan smart money saat pasar berlangsung, merekomendasikan trading saham pada emiten-emiten berikut ini:

1. Buy on Pullback TPIA (Entry: 1715 – 1790, Target Price (TP): 2070 dan Stop Loss (SL): <1680).

Saham PT Chandra Asri Pacific Tbk (TPIA) dicermati pasca aksi shareholding rebalancing oleh SCG Chemicals (SCGC) yang menurunkan porsi kepemilikannya dari 29,38% menjadi 15,71%. Meski kepemilikan berkurang, SCGC menegaskan tetap menjadi pemegang saham strategis jangka panjang sehingga fundamental dan arah bisnis TPIA tidak berubah.

Transaksi ini berdampak positif pada peningkatan porsi saham publik (free float) TPIA menjadi sekitar 25,7%. Peningkatan ini berpotensi meningkatkan likuiditas perdagangan saham, menarik minat investor institusi global dan produk investasi berbasis indeks, serta berpeluang memberikan valuation re-rating dalam jangka menengah.

2. Buy MNCN (Entry: 214, Target Price (TP): 230 dan Stop Loss (SL): <206).

MNCN mulai bergerak sideways yang mengindikasikan tekanan jual cenderung mereda. Di sisi lain, MNCN juga memperlihatkan potensi reversal yang ditunjukkan oleh terbentuknya pola double bottom. Selain itu, pada time frame yang lebih kecil, terlihat adanya pola bullish harami yang berhasil melakukan rejection di area MA50, sehingga semakin mengonfirmasi potensi pembalikan arah dalam jangka pendek.

3. Buy on Breakout MAPI (Entry: 1525, Target Price (TP): 1645 dan Stop Loss (SL): <1465).

Rekomendasi untuk saham PT Mitra Adiperkasa Tbk (MAPI) ini dikeluarkan menyusul adanya aksi korporasi yang signifikan di tingkat manajemen. Perusahaan mengalami perubahan pengendali baru melalui proses akuisisi saham yang bernilai fantastis. Pacific Universal Investments Pte. Ltd. resmi mengambil alih kepemilikan dengan mengakuisisi 51% saham Perseroan. Nilai transaksi dari aksi akuisisi strategis ini dilaporkan mencapai Rp11,8 triliun.

4. Buy Obligasi: FR0091 (Kupon: 6,5%, Yield: 7,35, Est Harga: 95,45).

Obligasi pemerintah kembali menarik dicermati setelah yield-nya naik mendekati area resistance, yang secara implisit mencerminkan penurunan harga obligasi. Kondisi ini membuka peluang akumulasi pada level valuasi yang lebih murah karena yield berada di titik balik pergerakan historisnya dalam beberapa tahun terakhir.

Tekanan pada pasar obligasi domestik diperkirakan mulai mereda seiring stabilisasi Rupiah pasca kenaikan suku bunga Bank Indonesia dan meredanya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.

Dengan terbatasnya ruang kenaikan yield ke depan, obligasi pemerintah tenor menengah hingga panjang ini berpotensi menawarkan imbal hasil menarik sekaligus peluang capital gain saat yield kembali bergerak turun. (R)

Share: