MEDAN, Index Sumut – Sentimen positif dari perkembangan geopolitik global mendorong penguatan sejumlah instrumen keuangan pada perdagangan hari ini, Senin (15/6). Kabar mengenai kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri konflik yang telah berlangsung sekitar empat bulan menjadi angin segar bagi pasar keuangan dunia.

Mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona hijau. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dibuka menguat ke level 6.118, sementara nilai tukar rupiah turut menguat ke posisi Rp17.745 per dolar AS pada perdagangan pagi.

Pengamat ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, penguatan rupiah dan pasar keuangan domestik tidak hanya didorong oleh meredanya tensi geopolitik global, tetapi juga oleh meningkatnya minat investor terhadap instrumen surat berharga Indonesia.

“Selain sentimen positif dari potensi perdamaian AS-Iran, pasar juga merespons kenaikan imbal hasil surat utang dalam negeri yang semakin menarik bagi investor. Yield Surat Berharga Negara (SBN) tenor 10 tahun yang sebelumnya mendekati 7,5 persen dan kini berada di kisaran 7,165 persen masih menawarkan daya tarik yang cukup kuat,” ujar Gunawan.

Menurutnya, kenaikan imbal hasil Sekuritas Rupiah Bank Indonesia (SRBI) tenor 12 bulan yang telah menyentuh level 7,5 persen menjadi salah satu faktor utama yang menopang penguatan rupiah. Kondisi tersebut terjadi setelah Bank Indonesia menaikkan suku bunga acuannya beberapa waktu lalu.

“Kenaikan yield SRBI membuat instrumen keuangan domestik lebih kompetitif di mata investor asing. Aliran dana yang masuk ke pasar obligasi dan instrumen berbasis rupiah memberikan dukungan terhadap stabilitas nilai tukar,” jelasnya.

Gunawan menilai IHSG maupun rupiah berpotensi mempertahankan tren positif hingga akhir sesi perdagangan. Selain didukung sentimen global yang kondusif, minimnya agenda rilis data ekonomi penting pada hari ini membuat tekanan terhadap pasar relatif terbatas.

Di sisi lain, harga emas dunia juga menunjukkan penguatan. Pada perdagangan hari ini, emas ditransaksikan di level 4.335 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,48 juta per gram.

Meski demikian, Gunawan mengingatkan bahwa pelaku pasar masih mencermati potensi peningkatan tekanan inflasi global yang dapat memengaruhi arah kebijakan moneter Amerika Serikat.

“Harga emas masih memiliki ruang untuk naik lebih lanjut. Namun pasar tetap waspada terhadap kemungkinan inflasi yang kembali meningkat dan berpotensi mendorong Bank Sentral AS atau The Fed mempertahankan suku bunga tinggi atau bahkan kembali menaikkannya,” pungkasnya.

Dengan kombinasi sentimen geopolitik yang membaik dan tingginya daya tarik instrumen keuangan domestik, pasar Indonesia saat ini berada dalam posisi yang cukup diuntungkan, meski risiko global tetap perlu diwaspadai. (R)

Share: