MEDAN, Index Sumut – Pergerakan pasar keuangan domestik pada perdagangan hari ini, Selasa (30/6), menunjukkan pelemahan pada sejumlah instrumen utama, mulai dari Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG), nilai tukar rupiah, hingga harga emas.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, data manufaktur China menjadi sentimen utama yang memengaruhi pergerakan pasar keuangan Asia. Berdasarkan data terbaru, Manufacturing PMI China berada di level 50,3 atau masih berada pada zona ekspansi.
“Data PMI China yang berada di atas level 50 memberikan sentimen positif bagi pasar saham di kawasan Asia. Mayoritas bursa saham Asia bergerak menguat pada perdagangan pagi ini karena optimisme terhadap aktivitas manufaktur di negara tersebut,” ujar Gunawan.
Menurutnya, selain data PMI China, tidak terdapat agenda ekonomi besar lainnya di kawasan Asia yang mampu memberikan pengaruh signifikan terhadap pasar keuangan regional. Di sisi lain, sejumlah indikator ekonomi Amerika Serikat justru memberikan ruang bagi penguatan aset-aset di pasar negara berkembang.
“Kinerja indeks dolar AS pada sesi perdagangan pagi cenderung melemah. Kondisi ini sebenarnya membuka peluang bagi rupiah untuk menguat terhadap dolar AS,” katanya.
Namun demikian, pasar keuangan Indonesia masih bergerak berbeda dibandingkan mayoritas bursa Asia. IHSG pada awal perdagangan justru dibuka melemah di level 5.801.
Gunawan menilai pelaku pasar masih memilih bersikap hati-hati sambil menunggu keputusan lembaga pemeringkat internasional terkait peringkat utang Indonesia yang akan diumumkan dalam waktu dekat.
“Investor masih mencermati keputusan Standard & Poor’s terkait peringkat utang Indonesia. Faktor ini menjadi salah satu alasan mengapa pergerakan pasar domestik cenderung tertahan,” jelasnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah pada perdagangan pagi tercatat melemah ke level Rp17.850 per dolar AS. Gunawan memperkirakan IHSG akan bergerak dalam rentang 5.750 hingga 5.835 sepanjang perdagangan hari ini, sedangkan rupiah berpotensi berada pada kisaran Rp17.800 hingga Rp17.870 per dolar AS.
Di pasar komoditas, harga emas dunia juga mengalami tekanan. Emas ditransaksikan turun ke level US$3.968 per ons troy atau setara sekitar Rp2,3 juta per gram.
Menurut Gunawan, pelemahan harga emas dipicu oleh berlanjutnya pembicaraan antara Iran dan Amerika Serikat yang dinilai dapat meredakan ketegangan geopolitik global.
“Prospek membaiknya hubungan Iran dan AS berpotensi menurunkan tekanan inflasi global. Kondisi tersebut mengurangi minat investor terhadap aset safe haven seperti emas sehingga harganya terkoreksi,” pungkasnya. (R)





