MEDAN, Index Sumut – Memanasnya kembali konflik di sekitar Selat Hormuz setelah serangan udara terbaru Amerika Serikat ke wilayah Iran memicu lonjakan harga minyak mentah dunia. Kondisi tersebut langsung membebani pasar keuangan global, termasuk Indonesia, dengan tekanan yang terlihat pada pelemahan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, harga minyak mentah dunia melonjak dari kisaran US$68–72 per barel menjadi sekitar US$72–75,9 per barel. Kenaikan dalam satu hari perdagangan mencapai 3,5 hingga lebih dari 5 persen.
“Lonjakan harga minyak menunjukkan pasar kembali mengkhawatirkan kondisi geopolitik di Timur Tengah. Serangan terbaru di sekitar Selat Hormuz menandakan konflik belum benar-benar berakhir, sehingga risiko terhadap jalur distribusi energi dunia kembali meningkat,” ujar Gunawan, Rabu (8/7).
Menurutnya, Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran energi terpenting di dunia. Ketegangan di kawasan tersebut berpotensi mengganggu distribusi minyak dan berbagai komoditas global, sehingga memunculkan ancaman inflasi akibat kenaikan biaya energi serta pasokan bahan baku industri yang lebih mahal.
Dampak sentimen negatif tersebut langsung tercermin pada perdagangan saham di kawasan Asia yang mayoritas bergerak di zona merah. IHSG pun dibuka melemah ke level 5.984 dan berpotensi menguji level psikologis 5.900 apabila tekanan jual terus berlanjut.
“Naiknya harga minyak kembali menjadi sentimen negatif bagi pasar saham domestik. Investor mulai mengantisipasi kenaikan inflasi global yang dapat mendorong bank-bank sentral mempertahankan kebijakan moneter yang ketat atau kembali bersikap hawkish,” jelasnya.
Tekanan juga terjadi di pasar valuta asing. Rupiah pada perdagangan pagi sempat menyentuh level Rp18.000 per dolar AS, seiring menguatnya indeks dolar AS (USD Index) yang kembali berada di atas level 101.
Gunawan menilai kenaikan harga minyak membuat investor global kembali memburu aset berdenominasi dolar AS sebagai instrumen yang dinilai lebih aman di tengah meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
“Selama konflik di Timur Tengah belum menunjukkan tanda-tanda mereda, volatilitas di pasar keuangan masih akan tinggi. Rupiah berpotensi tetap berada dalam tekanan dan IHSG masih dibayangi aksi ambil untung maupun pengalihan dana ke aset yang lebih aman,” katanya.
Sementara itu, harga emas dunia masih bergerak relatif stabil di kisaran US$4.120 per troy ons atau sekitar Rp2,39 juta per gram. Meski demikian, Gunawan mengingatkan bahwa kenaikan harga minyak juga dapat menjadi faktor yang membatasi penguatan emas apabila ekspektasi suku bunga global kembali meningkat.
“Ke depan, fokus pasar akan tertuju pada perkembangan konflik di Selat Hormuz. Jika eskalasi terus berlanjut, harga minyak berpotensi kembali naik dan memberikan tekanan lebih besar terhadap pasar keuangan, termasuk IHSG dan rupiah,” tutupnya. (R)





