MEDAN, Index Sumut – Tekanan terhadap pasar keuangan domestik kembali meningkat seiring memanasnya tensi geopolitik di Timur Tengah. Kenaikan harga minyak mentah dunia setelah serangan Iran terhadap sejumlah pangkalan militer Amerika Serikat di kawasan Arab mendorong pelemahan nilai tukar rupiah hingga mendekati level psikologis Rp18.100 per dolar AS.
Pada perdagangan Kamis (9/7) pagi, harga minyak mentah jenis WTI bergerak di kisaran US$74 per barel, sementara minyak Brent diperdagangkan di sekitar US$78 per barel. Kenaikan harga energi tersebut dipicu kekhawatiran pasar terhadap potensi terganggunya pasokan minyak global.
Di sisi lain, pasar saham Asia masih mampu bertahan di zona hijau. Namun, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) justru dibuka melemah ke level 5.865, melanjutkan koreksi yang telah terjadi pada perdagangan sebelumnya.
Sementara itu, nilai tukar rupiah juga berada di bawah tekanan dan pada perdagangan pagi diperdagangkan di kisaran Rp18.070 per dolar AS.
Pelemahan ini dipicu kombinasi sentimen eksternal, mulai dari hasil risalah Federal Open Market Committee (FOMC) yang menunjukkan bank sentral Amerika Serikat masih berhati-hati terhadap potensi inflasi, hingga lonjakan harga minyak yang kembali memupus harapan pelonggaran kebijakan moneter global.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, eskalasi konflik geopolitik kembali mengubah arah pergerakan pasar keuangan global. Menurutnya, investor kini lebih memilih aset yang dinilai aman sambil mencermati perkembangan konflik di Timur Tengah.
“Konflik yang kembali memanas meningkatkan ketidakpastian pasar. Risiko terganggunya jalur distribusi energi melalui Selat Hormuz membuat pelaku pasar mengantisipasi lonjakan biaya logistik dan kenaikan harga berbagai komoditas. Kondisi ini menjadi sentimen negatif bagi rupiah dan pasar saham domestik,” ujar Gunawan.
Ia menambahkan, kenaikan harga minyak juga berpotensi memperbesar tekanan inflasi, terutama bagi negara-negara pengimpor energi seperti Indonesia. Jika kondisi tersebut berlangsung dalam waktu lama, ruang bagi bank sentral untuk melonggarkan kebijakan moneter akan semakin terbatas.
Menurut Gunawan, IHSG diperkirakan masih sulit keluar dari tekanan selama sentimen geopolitik dan pergerakan rupiah belum menunjukkan perbaikan yang signifikan.
Di tengah meningkatnya ketidakpastian global, harga emas justru bergerak melemah ke kisaran US$4.079 per troy ons, atau sekitar Rp2,38 juta per gram. Pelemahan emas dinilai sebagai respons pasar terhadap dinamika perdagangan jangka pendek, meski logam mulia tersebut masih berpeluang kembali menjadi aset lindung nilai apabila konflik terus bereskalasi.
Pelaku pasar kini akan mencermati perkembangan situasi geopolitik di Timur Tengah serta arah kebijakan moneter Amerika Serikat yang diperkirakan masih menjadi faktor utama penentu pergerakan rupiah, IHSG, dan harga komoditas global dalam beberapa waktu ke depan. (R)





