MEDAN, Index Sumut – Memanasnya kembali konflik antara Iran dan Amerika Serikat di kawasan Selat Hormuz memicu gejolak di pasar keuangan global. Eskalasi serangan yang terjadi di kedua negara mendorong pelaku pasar beralih ke aset yang lebih aman, sehingga menekan nilai tukar rupiah dan pasar saham, termasuk di Indonesia.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap rupiah tidak hanya dipengaruhi ketegangan geopolitik, tetapi juga meningkatnya kehati-hatian investor yang menanti sejumlah data ekonomi penting dari Amerika Serikat dan China.

“Pasar saat ini sedang dibayangi dua sentimen besar sekaligus, yakni konflik Iran-AS yang kembali memanas dan rilis data ekonomi utama seperti inflasi AS, inflasi produsen, penjualan ritel, serta pertumbuhan ekonomi China kuartal II. Kombinasi sentimen tersebut membuat investor cenderung mengurangi aset berisiko,” ujar Gunawan, Senin (13/7).

Menurutnya, pada perdagangan pagi rupiah terpantau melemah hingga menembus level Rp18.110 per dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka menguat di level 5.934 akhirnya berbalik melemah dan beberapa kali menguji level psikologis 5.900.

Gunawan menjelaskan, kenaikan harga minyak mentah dunia yang mendekati 80 dolar AS per barel turut memperburuk tekanan terhadap mata uang negara berkembang, termasuk Indonesia. Konflik di Selat Hormuz memunculkan kekhawatiran terganggunya pasokan energi global sehingga mendorong kenaikan harga minyak.

“Rupiah memang bukan satu-satunya mata uang yang mengalami tekanan. Yuan China, dolar Singapura, hingga baht Thailand juga sama-sama melemah terhadap dolar AS. Namun pelemahan rupiah menjadi lebih terasa karena pasar mengantisipasi risiko global yang semakin tinggi,” katanya.

Di sisi lain, lanjut Gunawan, pelaku pasar juga mencermati data inflasi Amerika Serikat yang akan menjadi penentu arah kebijakan suku bunga bank sentral AS (The Fed). Jika inflasi kembali meningkat, peluang suku bunga tinggi bertahan lebih lama akan semakin besar dan berpotensi memperkuat dolar AS.

“Sebaliknya, apabila inflasi menunjukkan perlambatan, pasar akan kembali membuka peluang penurunan suku bunga sehingga tekanan terhadap mata uang negara berkembang dapat sedikit mereda,” jelasnya.

Sementara itu, harga emas dunia masih bertahan di kisaran 4.106 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,4 juta per gram. Menurut Gunawan, pergerakan emas saat ini masih sangat dipengaruhi tarik-menarik antara meningkatnya permintaan aset aman akibat konflik geopolitik dan potensi kenaikan suku bunga yang biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia.

“Selama konflik Iran-AS belum menunjukkan tanda-tanda mereda dan data ekonomi global masih menjadi perhatian utama, volatilitas di pasar keuangan diperkirakan akan tetap tinggi. Investor perlu mencermati perkembangan geopolitik maupun kebijakan bank sentral sebagai penentu arah pasar dalam beberapa waktu ke depan,” tutupnya. (R)

Share: