MEDAN, Index Sumut – Harga minyak mentah dunia kembali melonjak di tengah memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat. Kenaikan harga minyak tersebut mulai menjadi perhatian serius bagi pasar keuangan karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi sekaligus mempersempit ruang kebijakan pemerintah dan bank sentral.
Harga minyak jenis West Texas Intermediate (WTI) pada perdagangan pagi ini telah menembus level US$91 per barel, sementara minyak Brent bergerak di kisaran US$96 per barel.
Kondisi tersebut terjadi seiring kembali pecahnya aksi saling serang antara Iran dan Amerika Serikat. Eskalasi konflik geopolitik membuat pelaku pasar meningkatkan kewaspadaan terhadap risiko gangguan pasokan energi global.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai lonjakan harga minyak menjadi salah satu risiko utama bagi pasar keuangan Indonesia. Jika harga minyak terus bergerak naik dan mendekati US$100 per barel, tekanan terhadap inflasi dan nilai tukar rupiah berpotensi semakin besar.
Menurutnya, kenaikan harga minyak tidak hanya berdampak pada biaya energi, tetapi juga dapat meningkatkan biaya produksi dan distribusi berbagai sektor ekonomi.
“Kalau harga minyak terus naik, dampaknya akan merembet ke inflasi. Pada akhirnya ini bisa memengaruhi arah kebijakan suku bunga dan memberikan tekanan tambahan terhadap pasar keuangan,” ujar Gunawan, Rabu (2/9).
Tekanan tersebut mulai terlihat di pasar saham Asia. Mayoritas bursa saham di kawasan Asia diperdagangkan di zona merah akibat meningkatnya ketidakpastian geopolitik.
Namun, IHSG masih mampu bertahan di zona hijau pada awal perdagangan. IHSG dibuka menguat ke level 6.625, meski penguatan tersebut mulai terkikis sehingga peluang terjadinya koreksi tetap terbuka.
Di pasar valuta asing, tekanan juga kembali dirasakan rupiah. Mata uang Garuda diperdagangkan di sekitar Rp17.760 per dolar AS.
Gunawan menilai kenaikan harga minyak dapat memperburuk ekspektasi inflasi ke depan. Jika tekanan inflasi semakin kuat, ruang untuk mempertahankan kebijakan suku bunga rendah juga akan semakin terbatas.
“Tekanan terhadap rupiah akan semakin besar jika harga minyak terus mengalami kenaikan. Pasar akan melihat kembali prospek inflasi dan arah suku bunga, sementara dari sisi pemerintah, beban anggaran juga berpotensi meningkat,” jelasnya.
Menurut Gunawan, kondisi tersebut pada akhirnya dapat membatasi kemampuan pemerintah dalam memberikan stimulus untuk menopang pertumbuhan ekonomi. Di sisi lain, sektor keuangan juga harus menghadapi tekanan dari kombinasi pelemahan rupiah, kenaikan imbal hasil dan meningkatnya ketidakpastian global.
Untuk perdagangan hari ini, IHSG diperkirakan bergerak dalam rentang 6.570–6.690. Sementara rupiah berpeluang kembali menguji level psikologis Rp17.800 per dolar AS apabila tekanan eksternal semakin kuat.
Emas Ikut Tertekan
Di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik, harga emas dunia justru bergerak melemah. Harga emas diperdagangkan di sekitar US$4.305 per troy ounce, atau setara sekitar Rp2,47 juta per gram.
Gunawan melihat level US$4.300 per troy ounce sebagai area psikologis penting bagi harga emas dalam jangka pendek.
Jika harga minyak terus bergerak mendekati US$100 per barel, emas berpotensi menghadapi tekanan lanjutan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa eskalasi konflik Iran-AS tidak hanya menjadi persoalan geopolitik, tetapi juga berpotensi menciptakan tekanan berantai terhadap berbagai aset keuangan.
“Yang perlu diwaspadai adalah jika harga minyak benar-benar mendekati US$100 per barel. Dampaknya bisa semakin luas, mulai dari inflasi, rupiah, IHSG hingga kemampuan pemerintah menjaga momentum pertumbuhan ekonomi,” pungkas Gunawan Benjamin. (R)





