MEDAN, Index Sumut – Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan. Nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah di awal perdagangan, seiring berlanjutnya tekanan jual di pasar obligasi global yang mendorong kenaikan imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun hingga menembus level 5,3%.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan tersebut menjadi salah satu sentimen utama yang membayangi pasar keuangan domestik. Kenaikan yield obligasi Amerika Serikat (AS) membuat aset berbasis dolar AS kembali menarik dan memberikan tekanan terhadap mata uang negara-negara berkembang, termasuk rupiah.

“Data Inflasi tanah air akan menjadi data pembuka pada perdagangan hari ini. Dimana Indonesia diproyeksikan akan membukukan inflasi sekitar 3.4% pada bulan September 2026 secara tahunan atau year on year. Dan sebelumnya AS merilis data inflasi yang lebih rendah dari ekspektasi pasar. Inflasi inti AS secara tahunan (yoy) pada agustus tercatat sebesar 3%, lebih rendah dibandingkan dengan consensus pasar yang memproyeksikan 3.3%,” kata Gunawan, Kamis (1/10).

Menurutnya, meskipun inflasi AS tercatat lebih rendah dari perkiraan, kondisi tersebut belum mampu menjadi katalis positif bagi pasar saham. Dow Jones justru ditutup melemah karena pasar masih menghadapi tekanan jual pada instrumen surat utang pemerintah AS.

“Meski demikian rilis data inflasi AS tidak menjadi kabar baik bagi indeks bursa Dow Jones yang justru merespon dengan ditutup melemah. Tekanan jual pada pasar obligasi AS yang masih berlanjut memicu kenaikan yield US Treasury 10 tahun hingga di atas 5.3%. Pasar saham di kawasan Asia pada perdagangan hari ini bergerak mixed,” jelasnya.

IHSG Berpeluang Bergerak di 6.030-6.130

Tekanan tersebut turut tercermin pada perdagangan IHSG. Pada sesi pembukaan, indeks saham domestik langsung terkoreksi ke level 6.062.

Gunawan memperkirakan IHSG masih akan bergerak volatil sepanjang perdagangan. Rentang pergerakan indeks diperkirakan berada di level 6.030 hingga 6.130.

“IHSG di sesi pembukaan perdagangan alami pelemahan ke level 6.062. Pada perdagangan hari ini IHSG berpeluang ditransaksikan dalam rentang 6.030 hingga 6.130. Sementara itu mata uang Rupiah kembali melemah di level 17.915 per US Dolar. Kenaikan yield US Treasury berikut USD Index ke level 101.5 menjadi sentimen negatif bagi mata uang Rupiah,” ujarnya.

Di pasar valuta asing, rupiah kembali bergerak melemah ke level Rp17.915 per dolar AS. Penguatan indeks dolar AS atau USD Index ke level 101,5, bersamaan dengan meningkatnya yield US Treasury, menjadi tekanan tambahan bagi rupiah.

Meski demikian, Gunawan memperkirakan rupiah masih berpeluang bertahan di bawah level Rp17.950 per dolar AS sepanjang sesi perdagangan.

“Meski demikian kinerja mata uang Rupiah diproyeksikan di bawah level 17.950 selama sesi perdagangan berlangsung. Sektor keuangan AS sejauh ini masih mengalami tekanan berat di tengah ekspektasi kenaikan imbal hasil yang memicu perang likuiditas di pasar global. Rupiah masih berada dalam tekanan selama terjadi kenaikan imbal hasil US Treasury,” katanya.

Waspadai Tekanan di Pasar Surat Utang Domestik

Gunawan juga menyoroti potensi rambatan tekanan dari pasar obligasi AS ke pasar surat utang domestik. Jika investor menuntut imbal hasil yang lebih tinggi pada obligasi Indonesia, pemerintah maupun otoritas moneter dapat menghadapi tekanan untuk menjaga daya tarik aset rupiah.

“Dikuatirkan tekanan permintaan imbal hasil tinggi juga terjadi pada pasar obligasi di tanah air. Yang mendorong terjadinya tekanan jual sehingga harus direspon dengan menaikkan bunga acuan,” ujar Gunawan.

Menurutnya, perkembangan yield US Treasury perlu dicermati karena kenaikan imbal hasil tersebut dapat memengaruhi arus modal global. Ketika imbal hasil aset AS meningkat, investor dapat melakukan penyesuaian portofolio dengan mengurangi eksposur pada aset berisiko di negara berkembang.

Kondisi tersebut pada akhirnya dapat memberikan tekanan secara bersamaan terhadap pasar saham, pasar obligasi, dan nilai tukar.

Harga Emas Ikut Terkoreksi

Di tengah tekanan pasar keuangan global, harga emas dunia juga mengalami pelemahan. Harga emas tercatat berada di kisaran US$4.153 per troy ounce.

“Terpisah harga emas dunia ditransaksikan melemah ke level $4.153 per ons troy, atau masih diikisaran harga 2.4 juta per gramnya,” ungkap Gunawan.

Pergerakan emas, rupiah, IHSG dan yield obligasi AS kini menjadi sejumlah indikator yang perlu diperhatikan investor dalam mencermati arah pasar keuangan pada perdagangan hari ini. (R)

Share: