MEDAN, Index Sumut – Dosen Politeknik Pembangunan Pertanian (Polbangtan) Medan berhasil meraih predikat Best Presenter dalam penyajian makalah di Seminar Nasional kerjasama Polbangtan Medan dengan Asosiasi Program Studi Penyuluhan, Komunikasi Pembangunan, dan Pemberdayaan Masyarakat Indonesia (APP-KPPMI).

Kegiatan yang bertema “Transformasi Penyuluhan Berbasis Inovasi, Digitalisasi, dan Sinergisitas Stakeholders untuk Pembangunan Berkelanjutan dan Swasembada Pangan” diikuti sekitar 200 peserta menghadirkan pemakalah dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia, antara lain Polbangtan Medan, Universitas Satya Terra Bhinneka, Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Quality, Universitas Andalas, Universitas Riau, Universitas Lampung, Polbangtan Bogor, Institut Pertanian Bogor (IPB), Polbangtan Yogyakarta Magelang, Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Sebelas Maret (UNS), Polbangtan Malang, dan Universitas Jember.

Sebanyak 120 artikel ilmiah dipresentasikan secara luring dan daring dalam sesi plenary, mencakup bidang penyuluhan pembangunan pertanian berkelanjutan, pemberdayaan masyarakat, komunikasi pembangunan, manajemen inovasi, budidaya pertanian, digitalisasi pertanian, pascapanen, sosial ekonomi, hingga teknologi pertanian.

Dari seluruh pemakalah, dewan juri menetapkan tiga peserta terbaik yang meraih penghargaan Best Presenter, yaitu, Puji Wahyu Mulyani, Dosen Jurusan Perkebunan Polbangtan Medan dengan artikel berjudul “Pengaruh Sumber Informasi dan Lingkungan Sosial terhadap Persepsi Pekebun Mendukung Hilirisasi Minyak Sawit Merah (Red Palm Oil) di Kabupaten Deli Serdang.”

Kemudian Mustapit, dari Universitas Jember, dengan artikel berjudul “Transformasi Partisipasi Konservasi Mangrove Menuju Sustainabilitas Pangan Masyarakat Pesisir Berdasarkan Perspektif Sustainable Agriculture Plural and Development.”

Lalu, Aung Ezra Alfatah (Universitas Riau) dengan artikel berjudul “Fakta-Fakta yang Mempengaruhi Kinerja Penyuluhan Pertanian di Kecamatan Bunga Raya Kabupaten Siak.”

Keterlibatan dosen Polbangtan ini searah dengan pernyataan Menteri Pertanian, Andi Amran Sulaiman yang menegaskan bahwa pembangunan pertanian modern membutuhkan dukungan riset dan inovasi yang kuat.

“Penyuluhan pertanian harus terus bertransformasi melalui pemanfaatan teknologi, riset, dan kolaborasi lintas sektor. Inovasi yang lahir dari perguruan tinggi menjadi kekuatan penting dalam mempercepat terwujudnya swasembada pangan dan meningkatkan kesejahteraan petani,” ujar Menteri Pertanian.

Kepala BPPSDMP, Idha Widi Arsanti, menyampaikan bahwa forum ilmiah seperti seminar nasional menjadi ruang strategis untuk menghasilkan gagasan dan solusi nyata bagi pembangunan pertanian.

“Kami mendorong sivitas akademika untuk terus menghasilkan penelitian terapan yang relevan dengan kebutuhan petani dan dunia usaha. Penyuluhan masa depan harus berbasis inovasi, digitalisasi, serta memperkuat sinergi seluruh pemangku kepentingan,” kata Idha Widi Arsanti.

Kepala Pusat Pendidikan Pertanian, Muhammad Amin, menyampaikan apresiasi atas prestasi yang diraih para dosen dalam Seminar Nasional APP-KPPMI. Menurutnya, forum ilmiah seperti ini menjadi bagian penting dalam meningkatkan kapasitas akademik sekaligus mendorong lahirnya inovasi yang dapat memberikan kontribusi nyata terhadap pembangunan pertanian.

Sementara itu, Direktur Polbangtan Medan, Nurliana Harahap, mengapresiasi prestasi yang diraih para pemakalah dan berharap capaian tersebut menjadi motivasi bagi sivitas akademika untuk terus berkarya.

“Prestasi Best Presenter ini menunjukkan bahwa dosen, peneliti, dan akademisi Indonesia memiliki kapasitas besar dalam menghasilkan inovasi dan gagasan yang bermanfaat bagi pembangunan pertanian. Polbangtan Medan akan terus mendorong budaya riset, publikasi ilmiah, dan kolaborasi guna mendukung penguatan SDM pertanian yang unggul dan profesional,” ujar Nurliana.

Ketua APP-KPPMI, Hery Bachrizal Tanjung, menegaskan bahwa transformasi penyuluhan pertanian tidak hanya berkaitan dengan perubahan metode, tetapi juga rekayasa ulang ekosistem inovasi yang melibatkan seluruh unsur pentahelix.

Ketua Panitia, Dwi Febrimeli, menyampaikan bahwa seminar ini menjadi wadah kolaborasi akademisi, peneliti, penyuluh, praktisi, serta berbagai pemangku kepentingan untuk memperkuat transformasi penyuluhan pertanian yang adaptif terhadap perkembangan teknologi dan kebutuhan pembangunan pertanian nasional.

Prestasi yang diraih para pemakalah tersebut menjadi bukti bahwa semangat berkarya, berinovasi, dan berkolaborasi akan melahirkan kontribusi nyata bagi kemajuan pertanian Indonesia menuju pembangunan berkelanjutan dan swasembada pangan.(R)

Share: