Index Sumut – Laju tekanan inflasi Sumut pada bulan Mei yang berada di level 0.48% secara bulanan (month to month) sangat mengecewakan.

“Berdasarkan rilis data BPS, laju tekanan inflasi Sumut jauh lebih tinggi dibandingkan dengan inflasi nasional yang justru merealisasikan deflasi 0.03%. Dan saya sendiri memperkirakan Sumut akan merealisasikan inflasi di Mei maksimal 0.2% sebelumnya,” kata Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, Senin (3/6).

Dia menyebutkan, ada selisih 0.51% untuk laju tekanan inflasi di wilayah Sumatera Utara jika dibandingkan dengan realisasi inflasi nasional.

“Tingginya inflasi di Sumut disumbang oleh 3 komoditas pangan strategis seperti cabai merah, bawang merah dan daging ayam. Padahal jika mempertimbangkan dari sisi konsumsi, bulan Mei semestinya konsumsi masyarakat Sumut mengalami penurunan selama tahun berjalan,” katanya.

Karena di bulan Mei ada normalisasi belanja setelah perayaan Idul Fitri di bulan April. Akan tetapi, kebijakan pemerintah yang memberlakukan libur panjang untuk dua kali perayaaan hari besar di bulan Mei, menjadi salah satu pendorong laju harga barang sulit ditekan.

“Hanya saja, deflasi yang terjadi pada perekonomian nasional membuat Sumut seakan bergerak anomali, dibandingkan dengan kebanyakan daerah lain di tanah air,” katanya.

Dia menyebutkan, Sumut masuk dalam 5 besar wilayah yang pengendalian inflasinya paling buruk se-nasional. Pemerintah melalui TPID harus bisa mencari tahu apa penyebab tingginya inflasi di Sumut pada bulan Mei. Setidaknya bukan hanya Mei saja, di bulan Maret laju tekanan inflasi di Sumut juga jauh dari proyeksi (0.34%) karena realisasinya 0.72% secara bulanan.

“Saya menilai realisasi inflasi di Sumut ini merupakan kejutan kedua di tahun 2024 ini. Dan saya menilai pemicu inflasi sejauh ini lebih dikarenakan oleh gangguan supply. Dari komoditas utama penyumbang inflasi yakni cabai merah, bawang merah dan daging ayam. Kenaikan terjadi saat semuanya mengalami gangguan persediaan,” ujarnya.

“Dimulai dari cabai merah yang terganggu akibat tingginya harga cabai di luar Sumut, atau ada gangguan supply serius di luar Sumut dan turunnya produktifitas tanaman di Sumut sendiri. Bawang merah jelas Sumut sangat bergantung dengan produksi di Jawa. Serta daging ayam yang pada dasarnya pasokan terganggu akibat kerugian yang dialami peternak selama ini,” pungkasnya. (R)

Share: