NEW YORK, Index Sumut – Harga emas dunia kembali melemah pada perdagangan Rabu (13/5/2026), memperpanjang penurunan untuk hari kedua berturut-turut di tengah meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap lonjakan inflasi akibat perang Iran.

Dikutip dari Reuters, memudarnya harapan pemangkasan suku bunga Amerika Serikat (AS) menjadi salah satu faktor utama yang menekan pergerakan logam mulia. Pelaku pasar juga mencermati pertemuan penting antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden China Xi Jinping yang dinilai dapat memengaruhi arah hubungan dagang kedua negara.

Harga emas spot ditutup turun 0,57 persen menjadi US$ 4.688,68 per ons troi. Sementara itu, kontrak berjangka emas AS justru ditutup naik tipis 0,22 persen ke level US$ 4.697,1 per ons troi.

Tekanan terhadap harga emas muncul setelah data terbaru menunjukkan indeks harga produsen (producer price index/PPI) AS pada April naik lebih tinggi dari perkiraan dan mencatat kenaikan terbesar sejak awal 2022. Kondisi tersebut memperkuat sinyal bahwa tekanan inflasi masih tinggi di tengah memanasnya konflik Iran.

Wakil Presiden sekaligus Senior Metals Strategist Zaner Metals Peter Grant mengatakan inflasi yang masih tinggi membuat ekspektasi suku bunga tinggi bertahan lebih lama kembali menguat.

“Inflasi masih cukup lengket sehingga ekspektasi suku bunga tinggi lebih lama semakin kuat. Itu yang menekan harga emas dalam dua hari terakhir,” ujar Grant.

Meski emas selama ini dianggap sebagai aset lindung nilai terhadap inflasi, kenaikan suku bunga biasanya menjadi sentimen negatif bagi logam mulia karena tidak memberikan imbal hasil.

Selain itu, data inflasi konsumen AS pada April juga menunjukkan kenaikan lanjutan, dengan tingkat inflasi tahunan mencatat lonjakan terbesar dalam tiga tahun terakhir.

The Fed pada bulan lalu mempertahankan suku bunga acuan di kisaran 3,50 persen hingga 3,75 persen. Berdasarkan CME FedWatch Tool, pelaku pasar kini semakin kecil memperkirakan adanya pemangkasan suku bunga sepanjang tahun ini.

Pertemuan Trump dan Xi Jadi Sorotan
Di sisi lain, Presiden Donald Trump tiba di China dengan agenda menjaga gencatan dagang yang masih rapuh sekaligus memburu kesepakatan ekonomi baru di tengah tekanan politik domestik akibat perang Iran.

Sentimen tambahan juga datang dari India yang menaikkan tarif impor emas dan perak menjadi 15 persen dari sebelumnya 6 persen. Kebijakan itu dilakukan untuk menekan impor logam mulia sekaligus menjaga cadangan devisa negara. India sendiri merupakan konsumen logam mulia terbesar kedua di dunia.

Grant menilai kenaikan tarif impor India berpotensi menekan permintaan emas dalam jangka panjang.

Sementara itu, harga perak spot melonjak 1,1 persen menjadi US$ 87,53 per ons setelah sempat menyentuh level tertinggi dua bulan. Platinum naik 0,25 persen menjadi US$ 2.136,49 per ons setelah mencapai posisi tertinggi sejak 12 Maret, sedangkan paladium menguat 0,27 persen ke level US$ 1.499,78 per ons. (invid)

Share: