JAKARTA, Index Sumut – Pelemahan nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) mulai memberikan tekanan serius terhadap dunia usaha. Rupiah bahkan sempat menyentuh level psikologis Rp17.600 per dolar AS pada perdagangan Jumat (15/5/2026).
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia Shinta Kamdani mengungkapkan, pelemahan rupiah memberi tekanan besar terhadap sektor industri, terutama yang masih bergantung pada bahan baku impor.
Menurut Shinta, kondisi tersebut perlu direspons secara serius dan terkoordinasi oleh pemerintah bersama otoritas terkait karena depresiasi rupiah terus menciptakan level terendah baru yang berpotensi memperbesar tekanan terhadap sektor riil.
“Bagi dunia usaha, situasi ini kami lihat sebagai external shock yang memperkuat tekanan pada struktur biaya dan arus kas perusahaan,” beber Shinta dalam keterangannya di Jakarta, dikutip Sabtu (16/5/2026).
Ia menjelaskan, pelemahan rupiah berdampak langsung terhadap kenaikan biaya impor karena struktur industri nasional masih sangat bergantung pada pasokan bahan baku dari luar negeri.
Berdasarkan catatan Apindo, sekitar 70 persen bahan baku manufaktur nasional masih berasal dari impor. Kondisi tersebut membuat setiap pelemahan rupiah otomatis meningkatkan biaya input produksi dalam denominasi rupiah.
Sejumlah sektor dinilai paling rentan terdampak, di antaranya industri petrokimia, plastik, makanan dan minuman, farmasi, hingga manufaktur berbasis energi. Tingginya ketergantungan terhadap bahan baku impor membuat sektor-sektor tersebut menghadapi lonjakan biaya produksi yang signifikan.
Shinta mencontohkan, harga nafta sebagai bahan baku utama industri plastik mengalami kenaikan tajam. Kondisi itu mendorong kenaikan harga resin hingga puluhan persen dan berdampak berantai terhadap industri kemasan serta sektor hilir lainnya.
Tekanan juga dirasakan dari sisi keuangan korporasi. Penguatan dolar AS membuat beban kewajiban dalam valuta asing meningkat, baik untuk pembayaran bunga maupun pokok utang.
Akibatnya, banyak perusahaan harus melakukan penyesuaian terhadap pengelolaan arus kas sekaligus menghadapi peningkatan risiko keuangan.
“Ini kemudian menekan margin usaha dan mempengaruhi keputusan ekspansi maupun penyerapan tenaga kerja,” pungkasnya. (invid)





