JAKARTA, Index Sumut – Cadangan devisa Indonesia kembali mengalami penyusutan dan mencatat tren penurunan selama lima bulan berturut-turut hingga Mei 2026. Kondisi ini menjadi sinyal meningkatnya tekanan terhadap perekonomian nasional di tengah upaya besar pemerintah dan Bank Indonesia (BI) mempertahankan stabilitas rupiah yang terus melemah.
Berdasarkan keterangan resmi BI pada Senin (8/6/2026) yang dikutip Bloomberg, posisi cadangan devisa Indonesia pada akhir Mei tercatat sebesar US$144,9 miliar. Penurunan tersebut menjadi periode pelemahan cadangan devisa terpanjang sejak 2018.
Menyusutnya cadangan devisa dipicu oleh pembayaran utang luar negeri pemerintah serta langkah intervensi yang dilakukan bank sentral untuk meredam gejolak pasar keuangan global yang masih dibayangi ketidakpastian.
Tekanan juga terlihat jelas di pasar keuangan domestik. Rupiah kembali terperosok dengan pelemahan 0,7 persen terhadap dolar Amerika Serikat dan mendekati rekor terendah baru sepanjang sejarah. Di saat yang sama, imbal hasil (yield) obligasi pemerintah tenor 10 tahun melonjak 26 basis poin menjadi 7,14 persen, level tertinggi sejak April 2025.
Sentimen negatif turut menghantam pasar saham. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) terkoreksi 2,5 persen seiring aksi jual yang terjadi di berbagai bursa regional. Layar perdagangan dipenuhi warna merah, mencerminkan meningkatnya kehati-hatian investor terhadap aset berisiko.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pelemahan pasar domestik dipicu kombinasi sentimen eksternal dan meningkatnya kekhawatiran terhadap kondisi fundamental ekonomi nasional.
“Pelaku pasar saat ini tidak hanya mencermati gejolak global, tetapi juga mulai fokus pada kemampuan pemerintah menjaga stabilitas fiskal dan nilai tukar. Tekanan yang datang secara bersamaan membuat investor memilih mengurangi eksposur pada aset berisiko,” ujarnya.
Salah satu perhatian utama pasar adalah penurunan cadangan devisa Indonesia yang cukup besar dalam satu bulan terakhir. Cadangan devisa tercatat turun dari 146,2 miliar dolar AS pada April menjadi 144,9 miliar dolar AS pada Mei 2026.
Menurut Gunawan, penyusutan sebesar 1,3 miliar dolar AS atau setara lebih dari Rp21 triliun tersebut mengindikasikan besarnya biaya yang harus dikeluarkan untuk menjaga stabilitas rupiah di tengah derasnya tekanan pasar.
“Penurunan cadangan devisa menunjukkan adanya intervensi yang cukup agresif untuk meredam pelemahan rupiah. Namun hingga saat ini tekanan terhadap mata uang domestik masih sangat besar sehingga hasilnya belum optimal,” katanya.
BI Perkuat Intervensi
Untuk menjaga stabilitas nilai tukar, BI telah mengintensifkan intervensi di pasar valuta asing maupun pasar obligasi. Langkah ini dilakukan guna menopang rupiah yang telah melemah sekitar 8 persen sepanjang tahun berjalan.
Tekanan terhadap mata uang nasional semakin berat akibat derasnya arus keluar modal asing. Investor global tercatat telah menarik lebih dari US$3,5 miliar dari pasar saham Indonesia, menyebabkan indeks acuan Jakarta anjlok lebih dari 30 persen sejak awal tahun.
Sebagai respons, BI dan pemerintah berkomitmen memperkuat koordinasi guna meningkatkan daya tarik aset Indonesia di mata investor asing. Salah satu strategi yang disiapkan adalah peningkatan suku bunga atas simpanan pemerintah untuk membantu menekan biaya pinjaman negara sekaligus mendorong masuknya aliran modal baru.
Meski cadangan devisa terus terkikis, BI memastikan posisi saat ini masih berada pada level yang aman. Cadangan devisa yang tersedia dinilai cukup untuk membiayai 5,5 bulan impor serta memenuhi kewajiban pembayaran utang luar negeri pemerintah.
Benteng Pertahanan Ekonomi
Cadangan devisa merupakan salah satu indikator penting yang mencerminkan ketahanan ekonomi suatu negara dalam menghadapi guncangan eksternal. Bagi Indonesia, cadangan devisa berfungsi sebagai bantalan utama untuk menstabilkan pasar keuangan ketika volatilitas nilai tukar meningkat tajam.
Saat rupiah menghadapi tekanan akibat arus keluar modal asing, cadangan devisa menjadi amunisi utama Bank Indonesia untuk menjaga kepercayaan pasar dan mencegah pelemahan mata uang yang tidak terkendali.
Namun, para pengamat mengingatkan bahwa penggunaan cadangan devisa secara terus-menerus juga memiliki risiko. Jika tidak diimbangi penguatan fundamental ekonomi, strategi tersebut dapat menimbulkan tantangan bagi stabilitas makroekonomi dalam jangka panjang.
Karena itu, sinergi antara kebijakan moneter dan fiskal menjadi faktor kunci untuk menjaga stabilitas pasar, mempertahankan arus modal, serta memastikan beban utang negara tetap berada dalam batas yang aman di tengah tekanan global yang belum mereda. (inv/R)





