MEDAN, Index Sumut – Kabar kurang menggembirakan kembali menghampiri pasar keuangan Indonesia. Pelemahan aktivitas manufaktur nasional pada Juni 2026 menjadi sentimen negatif yang membayangi pergerakan nilai tukar rupiah dan pasar saham domestik.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, data S&P Global Manufacturing PMI Indonesia yang berada di level 46,9 menunjukkan sektor manufaktur masih berada dalam fase kontraksi. Angka tersebut mengindikasikan aktivitas industri mengalami perlambatan dan berpotensi menekan kinerja perekonomian nasional.
“Data manufaktur yang kembali berada di bawah level 50 menjadi sinyal bahwa sektor industri sedang menghadapi tekanan. Kondisi ini tentu menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan, baik untuk IHSG maupun nilai tukar rupiah,” ujar Gunawan Benjamin, Rabu (1/7/2026).
Meski demikian, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi perdagangan pagi masih mampu bertahan di zona hijau setelah sempat dibuka melemah di level 5.640. Menurut Gunawan, penguatan IHSG tersebut masih ditopang oleh sentimen positif dari mayoritas bursa saham Asia yang bergerak menguat.
Di sisi lain, tekanan justru terlihat pada nilai tukar rupiah yang kembali melemah hingga menyentuh level Rp17.675 per dolar Amerika Serikat pada perdagangan pagi. Pelemahan tersebut membuat rupiah semakin mendekati level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
“Penguatan IHSG saat ini masih cukup rentan terkoreksi selama sesi perdagangan berlangsung. Sementara itu, rupiah menunjukkan tekanan yang lebih nyata karena dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik,” katanya.
Selain data manufaktur, pelaku pasar juga menantikan rilis sejumlah indikator ekonomi penting dari Badan Pusat Statistik (BPS), termasuk data inflasi Juni dan neraca perdagangan Indonesia.
Gunawan memperkirakan inflasi bulanan, tahunan maupun inflasi inti akan mengalami peningkatan dibandingkan periode sebelumnya. Namun dampak data inflasi terhadap pasar keuangan diperkirakan masih relatif terbatas.
“Yang lebih banyak menjadi perhatian pasar adalah data neraca perdagangan. Kinerja ekspor dan impor akan sangat menentukan arah pergerakan rupiah ke depan. Jika surplus perdagangan menyusut atau berada di bawah ekspektasi, tekanan terhadap rupiah berpotensi berlanjut,” jelasnya.
Menurutnya, investor juga masih mencermati berbagai indikator ekonomi domestik menjelang pengumuman outlook credit rating Indonesia yang akan menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan persepsi risiko investasi di Tanah Air.
Sementara itu, dari pasar komoditas, harga emas dunia mengalami koreksi dan diperdagangkan di level 3.982 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,3 juta per gram. Pelemahan harga emas dipicu oleh masih kuatnya spekulasi bahwa Bank Sentral Amerika Serikat (The Fed) berpotensi mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.
“Ekspektasi kenaikan atau bertahannya suku bunga The Fed pada level tinggi membuat dolar AS tetap kuat. Kondisi ini tidak hanya menekan harga emas, tetapi juga memberikan tekanan tambahan bagi mata uang negara berkembang termasuk rupiah,” pungkas Gunawan. (R)





