MEDAN, Index Sumut – Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih berpotensi mengalami koreksi pada perdagangan hari ini meski sempat dibuka menguat. Memanasnya konflik geopolitik antara Iran dan Amerika Serikat dinilai masih menjadi sentimen utama yang membayangi pergerakan pasar keuangan, termasuk nilai tukar rupiah.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, eskalasi konflik yang semakin meningkat, bahkan mengarah pada potensi perang darat, membuat pelaku pasar lebih berhati-hati dalam mengambil keputusan investasi. Kondisi tersebut menyebabkan sentimen positif dari sisi ekonomi belum mampu mendorong penguatan pasar keuangan domestik.

“Ketegangan geopolitik yang terus meningkat membuat pasar lebih fokus pada risiko global. Akibatnya, sentimen ekonomi yang sebenarnya positif bagi IHSG maupun rupiah belum mampu memberikan dorongan yang signifikan,” ujar Gunawan, Kamis (16/7).

Menurutnya, harga minyak mentah dunia hingga saat ini belum memberikan respons besar terhadap perkembangan konflik di Timur Tengah. Harga minyak masih bergerak di kisaran US$80 hingga US$85 per barel, meski kawasan Selat Hormuz masih menjadi perhatian pelaku pasar global.

Pada awal perdagangan, IHSG sempat menguat ke level 6.056, berbeda dengan mayoritas bursa saham Asia yang justru bergerak di zona merah. Sementara itu, nilai tukar rupiah melemah tipis ke posisi Rp18.070 per dolar Amerika Serikat.

Gunawan menilai pelemahan rupiah yang masih terbatas serta tekanan di bursa regional membuat peluang IHSG kembali terkoreksi masih cukup terbuka.

“Di tengah minimnya sentimen positif, IHSG diperkirakan bergerak pada kisaran 6.000 hingga 6.080. Sementara rupiah berpotensi bergerak dalam rentang Rp18.030 hingga Rp18.090 per dolar AS,” katanya.

Ia menjelaskan, secara fundamental rupiah sebenarnya memiliki peluang menguat seiring melemahnya US Dollar Index ke level 100,5. Namun, ketidakpastian global akibat meningkatnya ketegangan di Selat Hormuz masih menjadi faktor yang dapat menekan mata uang Garuda.

Selain perkembangan geopolitik, pasar juga akan mencermati rilis data ekonomi penting Amerika Serikat pada malam nanti. Apabila data tersebut memperkuat peluang kebijakan bank sentral AS atau Federal Reserve tetap bersikap hawkish, maka tekanan terhadap pasar keuangan diperkirakan akan semakin besar.

Di sisi lain, aset safe haven kembali diminati investor. Harga emas dunia tercatat menguat ke level sekitar US$4.059 per ons troy, atau sekitar Rp2,37 juta per gram. Menurut Gunawan, kenaikan tersebut lebih dipengaruhi faktor teknikal atau technical rebound, mengingat harga emas kerap berbalik naik setelah menyentuh level psikologis US$4.000 per ons troy.

“Selama ketidakpastian geopolitik masih tinggi, investor cenderung memilih aset yang lebih aman seperti emas. Kondisi ini berpotensi membuat volatilitas di pasar saham dan nilai tukar tetap tinggi dalam jangka pendek,” pungkasnya. (R)

Share: