JAKARTA, Index Sumut – Permintaan emas global tetap menunjukkan ketahanan sepanjang paruh pertama 2026 meski harga mengalami koreksi dan arus keluar dana dari Exchange-Traded Fund (ETF) meningkat. Kawasan Asia menjadi motor utama permintaan, didorong oleh tingginya minat investasi masyarakat serta pembelian agresif bank sentral.

Laporan World Gold Council (WGC) yang dikutip dari Kitco News, Senin (3/8/2026), mencatat total permintaan emas, termasuk transaksi over-the-counter (OTC), mencapai 1.269 ton pada kuartal II-2026. Secara kumulatif, permintaan pada semester pertama mencapai 2.522 ton atau naik 2 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Dari sisi nilai, permintaan emas bahkan mencetak rekor baru sebesar US$380 miliar atau sekitar Rp6,8 kuadriliun dengan asumsi kurs Rp18.014 per dolar AS. Capaian tersebut menunjukkan emas masih menjadi aset investasi yang diminati meski harganya sempat terkoreksi dari level tertinggi pada awal tahun.

Tekanan di pasar emas sempat muncul akibat meningkatnya ketegangan geopolitik, termasuk perang Amerika Serikat dan Iran yang memicu krisis energi global. Kondisi tersebut meningkatkan kekhawatiran inflasi sehingga memunculkan ekspektasi kenaikan suku bunga AS. Dampaknya, imbal hasil obligasi meningkat dan menekan daya tarik emas yang tidak memberikan imbal hasil.

Meski demikian, tren jangka panjang emas dinilai tetap positif. Rata-rata harga emas pada kuartal II berada di level US$4.056,59 atau sekitar Rp73 juta per ons. Angka tersebut memang turun 8 persen dibanding kuartal pertama, namun masih melonjak 37 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

WGC menilai investasi emas masih akan menjadi penopang utama pasar hingga akhir tahun, terutama dari investor Asia dan transaksi OTC.

Permintaan investasi harusnya tetap konstruktif hingga akhir 2026,” menurut laporan tersebut, menambahkan bahwa arus ETF Barat kemungkinan akan tetap dipengaruhi oleh imbal hasil riil, ekspektasi kebijakan moneter, dan kekuatan dolar AS.

Investor Asia Tetap Agresif

Permintaan investasi di luar pasar OTC turun menjadi 262 ton pada kuartal II setelah ETF emas berbasis fisik mencatat arus keluar bersih sebesar 45 ton. Penjualan meningkat pada Juni ketika investor merespons pelemahan harga emas, kenaikan imbal hasil obligasi, penguatan dolar AS, serta ekspektasi kenaikan suku bunga The Fed.

Namun, investor tetap memanfaatkan koreksi harga untuk melakukan akumulasi.

“Investor terlihat lebih waspada menghadapi koreksi harga dan konsolidasi, dan kekhawatiran ini digarisbawahi oleh prospek suku bunga yang naik di beberapa pasar. Gelombang pembelian saat harga turun juga terlihat di kuartal ini, dan sebagian besar investor masih menilai emas sebagai aset yang strategis,” ujar analis di laporan tersebut.

Amerika Utara menjadi penyumbang terbesar arus keluar ETF, mencatat kinerja semester pertama terburuk sejak 2013. Sebaliknya, arus masuk dari Asia mampu menopang portofolio ETF global yang masih bertambah 18 ton sepanjang semester pertama 2026.

Permintaan emas fisik juga tetap kuat. Pembelian emas batangan dan koin secara global mencapai 307 ton pada kuartal II, relatif stabil dibandingkan tahun lalu.

China kembali menjadi pasar investasi ritel emas terbesar di dunia dengan permintaan emas batangan dan koin mencapai 107 ton pada kuartal II dan 314 ton sepanjang semester pertama, menjadi rekor tertinggi sepanjang sejarah.

WGC menilai tingginya permintaan di China dipicu rendahnya imbal hasil obligasi domestik, lemahnya sektor properti, serta ketidakpastian geopolitik. Sementara itu, permintaan investasi di India naik 9 persen menjadi 50 ton karena koreksi harga membuka peluang membeli emas dengan harga lebih murah.

Laporan tersebut juga mencatat permintaan OTC yang sangat kuat, mencapai 327 ton pada kuartal II atau total 571 ton sepanjang semester pertama. Sebagian besar pembelian diperkirakan berasal dari kawasan Asia.

Bank Sentral Terus Menambah Cadangan

Di sisi lain, pembelian emas oleh bank sentral kembali meningkat tajam setelah melemah pada kuartal pertama.

WGC mencatat bank sentral membeli 289 ton emas pada kuartal II, lebih dari lima kali lipat dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya 57 ton. Capaian itu menjadi pembelian kuartalan terbesar kedua sepanjang sejarah.

Polandia menjadi pembeli terbesar dengan tambahan 51 ton emas, disusul China yang menambah 33 ton cadangan, menjadi pembelian kuartalan terbesarnya sejak akhir 2023.

WGC menilai kenaikan harga emas semakin memperkuat alasan strategis bank sentral untuk terus meningkatkan cadangan logam mulia tersebut, meskipun total pembelian sepanjang 2026 diperkirakan masih berada di bawah rekor tahun lalu.

Hasil Central Bank Gold Reserves Survey WGC juga menunjukkan 89 persen responden memperkirakan cadangan emas resmi akan meningkat hingga tahun depan, sementara 45 persen bank sentral berencana menambah kepemilikan emas.

Yang terlihat dari paruh pertama adalah permintaan emas oleh bank sentral yang berlanjut meskipun tidak merata. Selain itu, sentimen bank sentral terhadap emas tetap sangat kuat,” ujar analis WGC.

Permintaan Perhiasan Melemah

Di tengah kuatnya investasi, permintaan perhiasan justru menjadi titik lemah pasar emas global.

WGC mencatat permintaan perhiasan turun 17 persen dibandingkan tahun lalu menjadi 278 ton, sekaligus menjadi permintaan kuartalan terendah sejak masa pandemi. China mengalami penurunan sebesar 28 persen, sedangkan India turun 15 persen.

Meski volume pembelian menurun, nilai transaksi perhiasan tetap tinggi seiring kenaikan harga emas. Nilai permintaan perhiasan global mencapai US$40 miliar atau sekitar Rp722,1 triliun pada kuartal II dan US$85 miliar atau sekitar Rp1,5 kuadriliun sepanjang semester pertama.

Menurut WGC, konsumen kini lebih memilih perhiasan berbobot ringan, berkadar emas lebih rendah, serta memanfaatkan program tukar tambah. Di sisi lain, produk investasi seperti emas batangan dan koin semakin diminati karena menawarkan selisih harga yang lebih rendah dan keuntungan pajak di sejumlah negara.

Sementara dari sisi pasokan, suplai emas global tetap stabil di angka 1.269 ton. Produksi tambang meningkat 2 persen menjadi rekor 966 ton pada kuartal II, sedangkan volume daur ulang turun 6 persen karena koreksi harga mengurangi minat masyarakat menjual perhiasan lama. WGC menilai ekspektasi harga emas yang masih tinggi dan belum adanya krisis keuangan global turut membatasi pasokan dari sektor daur ulang. (Lip6)

Share: