MEDAN, Index Sumut – Badan Pusat Statistik (BPS) Provinsi Sumatera Utara mencatat inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) pada Juli 2026 mencapai 4,20 persen. Kenaikan harga sejumlah komoditas pangan, energi, hingga emas perhiasan menjadi faktor utama yang mendorong laju inflasi di provinsi ini.

Statistisi Ahli Utama BPS Sumatera Utara, Misfaruddin menyampaikan, inflasi tahunan tersebut tercermin dari kenaikan Indeks Harga Konsumen (IHK) dari 108,90 pada Juli 2025 menjadi 113,47 pada Juli 2026. Sementara itu, inflasi bulanan (month-to-month/m-to-m) tercatat sebesar 0,19 persen dan inflasi tahun kalender (year-to-date/y-to-d) mencapai 1,09 persen.

“Pada Juli 2026, Provinsi Sumatera Utara mengalami inflasi secara tahunan sebesar 4,20 persen. Secara bulanan inflasi tercatat 0,19 persen, sedangkan inflasi tahun kalender sebesar 1,09 persen,” ujar Misfaruddin dalam paparannya, Senin (3/8).

Menurutnya, inflasi tahunan dipicu oleh kenaikan harga pada seluruh kelompok pengeluaran. Kelompok makanan, minuman, dan tembakau menjadi penyumbang terbesar dengan inflasi 5,95 persen. Disusul kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya sebesar 8,66 persen, transportasi 5,21 persen, penyediaan makanan dan minuman/restoran 3,55 persen, serta informasi, komunikasi, dan jasa keuangan sebesar 3,37 persen.

Misfaruddin menjelaskan, komoditas yang paling besar mendorong inflasi tahunan adalah emas perhiasan dengan andil 0,46 persen. Selanjutnya cabai merah menyumbang 0,37 persen, cabai rawit 0,32 persen, tomat 0,23 persen, bensin 0,22 persen, minyak goreng 0,16 persen, angkutan udara 0,14 persen, serta biaya akademi atau perguruan tinggi sebesar 0,11 persen.

Selain itu, sejumlah komoditas pangan seperti ikan kembung, ikan dencis, beras, ikan tongkol, daging ayam ras, udang basah hingga mie instan juga turut memberikan sumbangan terhadap inflasi.

Di sisi lain, beberapa komoditas justru menahan laju inflasi. Bawang merah menjadi penyumbang deflasi terbesar secara tahunan dengan andil 0,28 persen. Komoditas lain yang turut menekan inflasi antara lain daging babi, kacang panjang, sawi putih, deterjen cair, popok bayi, pembersih lantai, hingga bawang bombai.

Untuk inflasi bulanan, Misfaruddin menyebut kenaikan harga cabai rawit menjadi penyumbang terbesar dengan andil 0,17 persen. Disusul beras sebesar 0,07 persen, tomat 0,06 persen, bensin 0,05 persen, serta daging ayam ras dan kangkung masing-masing sebesar 0,03 persen.

Sebaliknya, penurunan harga bawang merah menjadi faktor utama penahan inflasi bulanan dengan andil deflasi 0,17 persen. Penurunan harga juga terjadi pada emas perhiasan, ikan tongkol, jeruk, telur ayam ras, cabai merah, hingga minyak goreng.

BPS juga mencatat seluruh kabupaten dan kota yang menjadi daerah penghitungan IHK di Sumatera Utara mengalami inflasi secara tahunan maupun bulanan pada Juli 2026. Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kota Gunungsitoli sebesar 6,36 persen dengan IHK 116,38. Sementara inflasi terendah tercatat di Kabupaten Karo sebesar 3,83 persen dengan IHK 113,17. Untuk inflasi bulanan, Kota Gunungsitoli juga menjadi daerah dengan kenaikan harga tertinggi.

Misfaruddin menambahkan, dibandingkan periode yang sama pada tahun-tahun sebelumnya, inflasi Juli 2026 menunjukkan tren yang lebih tinggi. Pada Juli 2024 inflasi tahunan Sumatera Utara tercatat 2,06 persen, meningkat menjadi 2,86 persen pada Juli 2025, dan kembali naik menjadi 4,20 persen pada Juli 2026. Kondisi tersebut menunjukkan tekanan harga di Sumatera Utara masih cukup kuat, terutama dipengaruhi oleh komoditas pangan dan kebutuhan masyarakat. (R)

Share: