MEDAN, Index Sumut – Pergerakan nilai tukar rupiah dan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan hari ini, Rabu (5/8) dipengaruhi kombinasi sentimen global dan domestik. Di satu sisi, pasar mencermati ultimatum Amerika Serikat (AS) kepada Iran yang berpotensi memicu gejolak baru di Timur Tengah. Di sisi lain, pelaku pasar menanti rilis data Produk Domestik Bruto (PDB) Indonesia kuartal II yang diperkirakan tumbuh sekitar 5 persen secara tahunan.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan pasar saat ini masih menaruh perhatian besar pada perkembangan hubungan AS dan Iran. Menurutnya, pernyataan AS yang memberi pilihan kepada Iran untuk berdamai atau menghadapi konsekuensi lebih besar menjadi faktor yang meningkatkan kewaspadaan investor.
“Pelaku pasar akan sangat berhati-hati dengan kemungkinan eskalasi konflik yang lebih besar di Timur Tengah. Ultimatum AS berpeluang menjadi petaka bagi pasar keuangan jika Iran justru menolak ajakan AS,” ujar Gunawan.
Pada perdagangan pagi, mayoritas bursa saham Asia bergerak di zona hijau. IHSG juga dibuka menguat ke level 6.338,591, meski sempat terkoreksi ke zona merah. Sementara itu, rupiah diperdagangkan menguat di kisaran Rp17.935 per dolar AS, didukung pelemahan indeks dolar AS (USD Index) yang masih bertahan di bawah level psikologis 100.
Gunawan menjelaskan, pelemahan USD Index turut dipengaruhi turunnya harga minyak mentah dunia yang kembali bergerak di bawah 80 dolar AS per barel. Sentimen tersebut muncul setelah pejabat AS menyatakan Selat Hormuz tetap terbuka dan menyebut peluang tercapainya kesepakatan dengan Iran dalam waktu dekat.
Meski demikian, ia mengingatkan pasar tetap rentan mengalami guncangan apabila situasi berubah menjadi konfrontasi yang lebih besar.
“Risiko terbesar saat ini adalah jika kedua belah pihak justru meningkatkan konflik. Potensi eskalasi itu masih menjadi ancaman utama bagi pasar keuangan global,” katanya.
Di dalam negeri, perhatian investor juga tertuju pada pengumuman data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II-2026. Gunawan memperkirakan ekonomi nasional masih mampu tumbuh di kisaran 5 persen secara tahunan, sehingga dapat menjaga optimisme pasar.
“Namun sentimen dari data PDB tidak akan sepenuhnya menggeser perhatian pasar. Faktor eksternal, khususnya perkembangan geopolitik global, masih menjadi risiko utama yang membayangi pergerakan rupiah dan IHSG,” jelasnya.
Sementara itu, harga emas dunia pada perdagangan hari ini bergerak menguat ke level 4.105 dolar AS per troy ons atau sekitar Rp2,38 juta per gram. Kenaikan harga emas terjadi di tengah mulai meredanya tekanan dari pasar energi, seiring pelemahan harga minyak mentah dunia. (R)





