MEDAN, Index Sumut – Kenaikan harga daging ayam ras di Sumatera Utara mulai menimbulkan efek berantai terhadap pemenuhan kebutuhan protein masyarakat. Bahkan, lonjakan harga ayam disebut mulai mendorong sejumlah dapur program Makan Bergizi Gratis (MBG) mempertimbangkan penggunaan sumber protein lainnya.
Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, berdasarkan pemantauan Pusat Informasi Harga Pangan Strategis (PIHPS), harga daging ayam di sejumlah pasar tradisional Kota Medan telah menyentuh Rp50.000 per kilogram.
Kondisi tersebut mulai berdampak terhadap kebutuhan bahan baku program MBG. Gunawan menyebut, berdasarkan temuan di lapangan, sejumlah pedagang ayam yang menjadi pemasok dapur MBG mendapatkan informasi mengenai perubahan menu dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG).
“Dari hasil temuan pedagang daging ayam yang menyuplai kebutuhan MBG, mereka mendapatkan data mingguan menu dari SPPG yang mulai banyak beralih menggunakan daging sapi,” ujar Gunawan, Minggu (30/8).
Menurutnya, pergeseran tersebut memang belum terjadi secara serentak di seluruh SPPG. Namun, sebagian pengelola dapur MBG mulai mempertimbangkan untuk mengurangi dominasi daging ayam sebagai sumber protein dan menggantinya dengan komoditas lainnya.
Perubahan pola permintaan ini dinilai berpotensi menciptakan tekanan baru terhadap harga sejumlah komoditas pangan substitusi. Ketika permintaan terhadap ayam beralih ke telur, daging sapi, ikan, tahu maupun tempe, maka komoditas-komoditas tersebut berpeluang mengalami peningkatan permintaan.
“Berarti pergeseran kebutuhan ini berpeluang mendorong peningkatan sumber protein selain daging ayam, seperti telur ayam, daging sapi, tahu, tempe hingga ikan. Artinya, kenaikan harga daging ayam berpeluang mendorong kenaikan harga kebutuhan lainnya,” jelasnya.
Gunawan menilai kondisi tersebut perlu diwaspadai karena kenaikan harga ayam tidak hanya berdampak pada satu komoditas. Pergeseran permintaan akibat mahalnya harga ayam justru berpotensi memperluas tekanan harga pangan.
Dalam konteks yang lebih luas, kondisi ini dapat memberikan tambahan tekanan terhadap inflasi Sumatera Utara. Terlebih, ayam merupakan salah satu sumber protein yang banyak dikonsumsi masyarakat sekaligus menjadi komponen penting dalam pemenuhan kebutuhan gizi melalui program MBG.
“Dampak kenaikan harga daging ayam ini tidak bisa dianggap remeh, karena menjadi menu andalan dapur MBG untuk memenuhi kebutuhan gizi masyarakat. Pergeseran demand akan membuat demand beralih ke komoditas lainnya,” katanya.
Meski demikian, Gunawan menilai pergeseran permintaan ke komoditas lain belum tentu secara otomatis membuat harga ayam kembali turun. Pasalnya, kenaikan harga ayam saat ini juga diduga berkaitan dengan meningkatnya biaya input produksi di tingkat hulu.
Karena itu, menurutnya, penyelesaian persoalan harga ayam tidak cukup hanya dilakukan di tingkat konsumen atau hilir. Pemerintah perlu melihat struktur biaya produksi dari hulu agar kenaikan harga dapat ditekan secara berkelanjutan.
“Bukan lantas akan menekan harga daging ayam, karena terindikasi bahwa kenaikan harga daging ayam belakangan ini juga dipicu oleh kenaikan biaya input produksi. Jadi, untuk menuntaskan masalah harga di hilir, solusinya ada pada upaya untuk menekan biaya input produksi di hulu,” pungkas Gunawan.(R)





