MEDAN, Index Sumut — Harga minyak mentah dunia yang kembali menanjak di tengah memanasnya tensi geopolitik justru belum mampu menekan pasar keuangan Indonesia. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah masih mampu bergerak menguat pada pembukaan perdagangan hari ini, Kamis (3/9).

IHSG dibuka di level 6.632, sejalan dengan mayoritas bursa saham Asia yang juga bergerak di zona hijau. Penguatan pasar domestik terjadi di tengah tekanan yang masih membayangi pasar obligasi global.

Imbal hasil US Treasury tenor 10 tahun bahkan sempat menyentuh 4,8%. Pada perdagangan sesi Asia, yield tersebut berada di kisaran 4,78%, masih lebih tinggi dibandingkan posisi perdagangan sebelumnya.

Di sisi lain, indeks dolar AS atau USD Index justru melemah ke level 99,5. Kondisi ini memberikan ruang bagi sejumlah mata uang, termasuk rupiah, untuk bergerak lebih positif.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai pasar keuangan domestik masih mendapatkan dukungan dari aliran modal asing yang masuk melalui pasar obligasi.

Menurutnya, capital inflow menjadi salah satu faktor yang membantu menjaga kinerja pasar keuangan Indonesia tetap positif, meskipun sentimen global masih dibayangi ketidakpastian.

Penguatan IHSG juga membuka peluang bagi indeks untuk melanjutkan kenaikan dan menguji level psikologis 6.700. Namun, ruang penguatan tersebut tetap dibayangi risiko dari perkembangan geopolitik dan kenaikan harga komoditas energi.

Harga minyak mentah dunia kini telah berada di sekitar US$95,6 per barel. Kenaikan tersebut menjadi perhatian pasar karena berpotensi meningkatkan tekanan terhadap inflasi dan neraca perdagangan negara-negara importir energi.

Terlebih lagi, konflik antara Amerika Serikat dan Iran masih belum menunjukkan tanda-tanda mereda. Amerika Serikat masih memberikan indikasi akan melanjutkan serangan, sementara Iran terus melakukan serangan terhadap sejumlah fasilitas militer AS di kawasan Timur Tengah.

Gunawan menilai eskalasi konflik tersebut menjadi salah satu risiko utama yang perlu dicermati pasar. Jika tensi geopolitik kembali meningkat, volatilitas pasar keuangan global berpotensi ikut membesar.

Di pasar valuta asing, rupiah pada sesi perdagangan pagi ini juga mampu menguat ke level Rp17.695 per dolar AS. Pelemahan indeks dolar AS serta masuknya aliran modal ke pasar keuangan domestik menjadi katalis positif bagi rupiah.

Meski demikian, penguatan rupiah dinilai masih rentan karena tekanan eksternal belum sepenuhnya mereda. Pergerakan harga minyak, yield US Treasury, serta perkembangan konflik geopolitik akan menjadi faktor penting yang menentukan arah rupiah selanjutnya.

Dengan kondisi tersebut, baik IHSG maupun rupiah masih memiliki peluang untuk bertahan di zona hijau. Namun, investor tetap perlu mewaspadai potensi pembalikan arah apabila tensi geopolitik meningkat atau terjadi perubahan sentimen secara tiba-tiba di pasar global.

Sementara itu, harga emas dunia juga ikut menguat ke level US$4.410 per troy ounce atau sekitar Rp2,53 juta per gram.

Kenaikan emas kali ini dinilai belum sepenuhnya mencerminkan penguatan aset lindung nilai akibat kenaikan harga minyak. Faktor teknikal diperkirakan masih menjadi salah satu pemicu utama penguatan harga emas.

Dengan demikian, pasar keuangan domestik saat ini berada dalam situasi yang cukup paradoks. Di satu sisi, capital inflow dan pelemahan dolar AS memberikan tenaga bagi IHSG dan rupiah. Namun di sisi lain, kenaikan harga minyak dan eskalasi geopolitik tetap menjadi ancaman yang dapat sewaktu-waktu meningkatkan tekanan di pasar. (R)

Share: