MEDAN, Index Sumut – Harga minyak mentah dunia yang kembali mendekati level US$100 per barel menjadi salah satu sentimen yang mewarnai pergerakan pasar keuangan. Di tengah tekanan tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan rupiah masih berupaya bertahan di zona hijau pada perdagangan hari ini, Rabu (9/9).

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, pelaku pasar juga tengah mencermati sejumlah data ekonomi domestik yang akan dirilis hari ini. Salah satu yang paling dinantikan adalah indeks kepercayaan konsumen (IKK) periode Agustus.

Selain IKK, pasar juga akan mencermati data penjualan kendaraan bermotor serta penjualan mobil.

Menurut Gunawan, data kepercayaan konsumen menjadi salah satu indikator penting karena dapat memberikan gambaran mengenai keyakinan masyarakat terhadap kondisi ekonomi, baik saat ini maupun prospeknya ke depan.

“Indeks kepercayaan konsumen akan menjadi gambaran awal terhadap kondisi ekonomi ke depan dari perspektif masyarakat. Indeks tersebut bisa digunakan sebagai salah satu acuan dalam mengukur kinerja ekonomi nantinya,” kata Gunawan.

Ia menilai, apabila tingkat kepercayaan konsumen tetap solid, hal tersebut dapat menjadi sinyal positif bagi aktivitas konsumsi rumah tangga yang selama ini menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan ekonomi Indonesia.

Di sisi eksternal, pasar juga mencermati rilis data inflasi China yang menunjukkan kenaikan cukup signifikan secara bulanan. Meski demikian, pergerakan bursa saham Asia masih cenderung beragam dengan mayoritas bergerak mixed dan memiliki kecenderungan menguat.

Sementara itu, harga minyak mentah dunia menjadi perhatian setelah kembali mendekati level US$100 per barel. Harga minyak terpantau berada di kisaran US$99,4 per barel.

Kenaikan harga minyak tersebut berpotensi menjadi sentimen negatif bagi negara-negara importir minyak, termasuk Indonesia, karena dapat meningkatkan tekanan terhadap neraca perdagangan maupun biaya energi.

Di pasar domestik, IHSG dibuka cukup volatil. Indeks sempat menguat ke level 6.700, namun kemudian bergerak ke zona merah sebelum kembali berupaya menguat.

Sementara itu, rupiah justru menunjukkan penguatan. Mata uang Garuda ditransaksikan di level sekitar Rp17.555 per dolar AS.

Gunawan menilai peluang penguatan rupiah masih terbuka, salah satunya ditopang oleh sentimen dari pasar obligasi Amerika Serikat.

Langkah pembelian obligasi oleh Departemen Keuangan AS dinilai berpeluang mendorong aliran modal masuk atau capital inflow ke pasar keuangan domestik. Kondisi tersebut dapat memberikan tambahan tenaga bagi rupiah untuk menguat terhadap dolar AS.

Sentimen positif lainnya datang dari pelemahan indeks dolar AS atau USD Index yang berada di kisaran 98,7.

Namun, penguatan rupiah dan pasar saham belum sepenuhnya diikuti oleh harga emas dunia. Harga emas justru mengalami pelemahan dan berada di sekitar US$4.372 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,48 juta per gram.

“Pergerakan pasar keuangan hari ini masih akan sangat dipengaruhi oleh kombinasi sentimen global dan data ekonomi domestik. Investor perlu mencermati bagaimana respons pasar terhadap data kepercayaan konsumen yang akan dirilis,” ujar Gunawan.

Dengan demikian, meski harga minyak kembali mendekati US$100 per barel, pasar keuangan domestik masih menunjukkan daya tahan. Rupiah bahkan mampu menguat, sementara IHSG masih bergerak volatil dan berusaha mempertahankan momentum positif. (R)

Share: