MEDAN, Index Sumut – Pasar keuangan Indonesia kembali menghadapi tekanan pada awal pekan, Senin (21/9). Rupiah melemah terhadap dolar AS, sementara Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) bergerak di zona merah meski mayoritas bursa saham Asia tercatat menguat.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap pasar keuangan domestik tidak terlepas dari kembali naiknya imbal hasil US Treasury 10 tahun yang menyentuh level 5%.
Kenaikan yield tersebut turut diikuti penguatan kinerja USD Index yang kembali berada di level 100. Kondisi ini membuat aset berbasis dolar AS kembali menjadi perhatian investor global.
“Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali menyentuh angka 5%. Kenaikan imbal hasil tersebut juga diikuti dengan penguatan kinerja USD Index ke level 100,” ujar Gunawan.
Di sisi lain, harga minyak mentah dunia justru bergerak turun dan diperdagangkan di kisaran US$101 per barel. Untuk minyak jenis West Texas Intermediate (WTI), harganya bahkan berada di bawah level US$100 atau sekitar US$98 per barel.
Menurut Gunawan, pergerakan harga minyak menjadi salah satu faktor yang turut dicermati pelaku pasar di tengah dinamika global yang masih tinggi.
IHSG Berpotensi Uji Level 6.400
Pada perdagangan awal pekan, IHSG sempat dibuka menguat di level 6.446. Namun, penguatan tersebut tidak mampu dipertahankan dan IHSG selanjutnya bergerak di zona merah.
Gunawan menilai jika tekanan berlanjut, IHSG berpeluang menguji level support 6.400.
“Sejauh ini IHSG bergerak anomali di tengah kinerja mayoritas bursa saham di Asia yang ditransaksikan di zona hijau,” katanya.
Pergerakan IHSG tersebut menunjukkan bahwa sentimen eksternal belum sepenuhnya mampu mendorong penguatan pasar saham domestik. Investor masih mencermati perkembangan suku bunga global, pergerakan yield obligasi AS, serta ketidakpastian geopolitik.
Rupiah Melemah ke Level 17.780
Tekanan juga terlihat pada pasar valuta asing. Rupiah tercatat melemah ke level Rp17.780 per dolar AS.
Gunawan mengatakan posisi rupiah masih rentan tertekan oleh ekspektasi terhadap kebijakan suku bunga The Federal Reserve (The Fed) yang masih membuka peluang kenaikan suku bunga ke depan.
“Rupiah terbebani dengan sikap The Fed yang masih berpeluang untuk menaikkan besaran bunga acuan kedepan. Ditambah dengan ketidakpastian tensi geopolitik, Rupiah masih rentan alami tekanan,” jelasnya.
Karena itu, menurut Gunawan, diperlukan kombinasi kebijakan moneter dan pendalaman pasar obligasi untuk membantu menarik serta mempertahankan aliran modal masuk ke Indonesia.
“Rupiah masih rentan alami tekanan dan membutuhkan pendekatan kebijakan moneter serta penetrasi pasar obligasi untuk menyerap capital inflow,” tambahnya.
Ancaman Inflasi dan Biaya Pinjaman
Gunawan juga menyoroti ancaman inflasi yang masih tinggi. Kondisi tersebut dapat memperkuat ekspektasi terhadap kebijakan moneter AS dan mendorong terjadinya perebutan dana global.
“Ancaman inflasi tinggi belakangan ini kian memperkuat dugaan bahwa kebijakan Bank Sentral AS akan memicu perburuan dana global dari masing-masing negara,” ujarnya.
Menurut dia, apabila terjadi arus dana yang lebih besar menuju aset-aset berbasis dolar AS, dampaknya dapat dirasakan oleh negara berkembang, termasuk Indonesia.
Perburuan dana tersebut juga berpotensi meningkatkan biaya pinjaman perbankan. Kondisi ini pada akhirnya dapat memberikan tekanan terhadap pasar saham sekaligus menghambat laju pertumbuhan ekonomi.
“Namun perburuan tersebut berpeluang memicu kenaikan biaya pinjaman perbankan yang bisa menekan IHSG serta memperlambat laju pertumbuhan ekonomi,” kata Gunawan.
Harga Emas Mulai Melandai
Sementara itu, harga emas dunia bergerak relatif melandai. Harga emas tercatat berada di kisaran US$4.369 per troy ounce atau sekitar Rp2,51 juta per gram.
Gunawan menilai harga emas untuk sementara masih berada dalam fase konsolidasi karena belum banyak sentimen baru yang mampu menggerakkan pasar pada awal pekan.
“Untuk sementara masih berkonsolidasi terlebih dahulu, seiring dengan masih minimnya sentimen pasar pada awal pekan ini,” pungkasnya. (R)





