MEDAN, Index Sumut – Harga emas dunia kembali menunjukkan penguatan dan mendekati level US$4.400 per ons troy. Di sisi lain, nilai tukar rupiah masih berada dalam tekanan dan diperdagangkan di kisaran Rp17.885 per dolar AS pada perdagangan pagi, Selasa (22/9).
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, pergerakan pasar keuangan global saat ini masih dipengaruhi oleh ekspektasi arah kebijakan suku bunga Amerika Serikat (AS), pergerakan dolar AS, serta perkembangan harga komoditas.
Menurutnya, tekanan jual di pasar obligasi AS mulai mereda. Hal itu tercermin dari imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang berada di level 4,95%. Namun, kondisi tersebut belum sepenuhnya memberikan ruang bagi rupiah untuk menguat karena indeks dolar AS atau USD Index masih bertahan di sekitar level 100,4.
“Tekanan jual pada obligasi terus mereda, sejalan dengan pelemahan harga minyak mentah dunia belakangan ini. Imbal hasil US Treasury 10 tahun berada dilevel 4.95%. Meski demikian USD Index justru bertahan di kisaran level 100.4. Kinerja mata uang Rupiah masih rawan alami koreksi, karena USD Index cenderung bergerak naik,” ujar Gunawan.
Ia menjelaskan, rupiah pada perdagangan pagi ini melemah ke level Rp17.885 per dolar AS. Sementara itu, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat dibuka menguat ke level 6.392, meski dalam perjalanannya kembali berulang kali masuk ke zona merah.
Gunawan menilai, ekspektasi terhadap arah suku bunga acuan masih menjadi salah satu perhatian utama pelaku pasar. Kebijakan suku bunga global akan berpengaruh terhadap biaya pendanaan dan pergerakan aset keuangan, termasuk nilai tukar serta pasar saham.
“Ekspektasi kenaikan bunga acuan kedepan masih menjadi fokus utama pelaku pasar sejauh ini. Kinerja sektor keuangan masih dihantui oleh kenaikan biaya keuangan secara global,” katanya.
Harga Minyak Jadi Perhatian
Di tengah tekanan terhadap rupiah, harga minyak mentah dunia yang sempat mengalami pelemahan dinilai memberikan katalis positif bagi pasar saham Asia. Namun, harga minyak jenis Brent masih bertahan di sekitar US$100 per barel.
Gunawan mengatakan, perkembangan harga minyak tetap perlu dicermati karena ketegangan geopolitik di kawasan Timur Tengah masih berlangsung. Kondisi tersebut berpotensi memberikan tekanan terhadap harga komoditas sekaligus meningkatkan volatilitas pasar keuangan global.
“Sempat melemahnya harga minyak mentah dunia, dan sejauh ini masih bertahan di level $100 untuk jenis brent. Menjadi katalis positif bagi pergerakan pasar saham di Asia. Walaupun ketegangan di wilayah timur tangah tetap masih berlangsung, dan masih menjadi ancaman bagi harga komoditas maupun pasar keuangan secara keseluruhan,” jelasnya.
Selain perkembangan geopolitik, pasar juga menunggu agenda diplomasi para pemimpin dunia dalam sidang Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) pekan ini.
Pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi dari AS yang berpotensi menjadi indikator tambahan mengenai arah kebijakan The Fed ke depan, setelah bank sentral AS sebelumnya menaikkan suku bunga acuannya.
Emas Kembali Menguat
Di tengah dinamika tersebut, emas justru kembali mencatatkan penguatan. Harga emas dunia berada di level US$4.371 per ons troy atau setara sekitar Rp2,51 juta per gram berdasarkan perhitungan yang digunakan dalam laporan ini.
Gunawan menilai penguatan harga emas tidak terlepas dari dinamika pasar global, termasuk pergerakan harga minyak dan ekspektasi kebijakan moneter.
“Terpisah harga emas dunia masih menguat ke level $4.371 per ons troy atau sekitar 2.51 juta pe rgram. Harga emas dunia membaik kinerjanya seiring dengan harga minyak mentah dunia yang cenderung stabil setelah alami tekanan besar sebelumnya,” pungkasnya. (R)





