MEDAN, Index Sumut – Tekanan terhadap nilai tukar rupiah kembali menguat. Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang menembus 5% menjadi salah satu pemicu utama pelemahan rupiah, seiring penguatan dolar Amerika Serikat (AS) di pasar global.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, mengatakan yield US Treasury 10 tahun pada perdagangan pagi ini kembali naik ke kisaran 5,12%. Kenaikan tersebut juga diikuti penguatan US Dollar Index ke level 101,15.
Menurutnya, kombinasi kenaikan yield obligasi AS dan penguatan dolar menjadi sentimen eksternal yang memberikan tekanan besar terhadap rupiah.
“Imbal hasil US Treasury 10 tahun kembali naik diatas 5%, atau di kisaran 5.12% pada perdagangan pagi ini. Kenaikan imbal hasil US Treasury tersebut turut diikuti dengan kenaikan USD index ke level 101.15. Dua indikator tersebut akan menghempaskan kinerja mata uang Rupiah pada perdagangan hari ini,” ujar Gunawan, Kamis (24/9).
Pada perdagangan pagi, rupiah terpantau melemah ke level Rp17.890 per dolar AS. Pelemahan tersebut menunjukkan dominannya sentimen eksternal dalam menentukan arah pasar keuangan domestik.
Gunawan menilai tekanan jual terhadap surat utang AS juga memperlihatkan bahwa pelaku pasar masih mencari tingkat keuntungan yang lebih tinggi. Kondisi tersebut sekaligus menunjukkan bahwa kebijakan suku bunga The Fed belum sepenuhnya mampu meredam ekspektasi pasar.
“Tekanan jual pada obligasi AS kembali membuktikan bahwa pelaku pasar masih mengharapkan keuntungan yang lebih, dan sekaligus juga bukti bahwa menaikkan bunga acuan The Fed dinilai belum cukup,” jelasnya.
Rupiah Berpotensi Dekati Level Psikologis Rp18.000
Menurut Gunawan, pasar keuangan global saat ini sedang mencari keseimbangan harga baru. Perubahan tersebut berpotensi memberikan tekanan lanjutan terhadap sektor keuangan Indonesia, terutama jika dolar AS dan yield obligasi AS terus bergerak naik.
“Pasar tengah membentuk keseimbangan harga keuangan yang baru, yang tentunya akan memicu tekanan sektor keuangan di tanah air,” katanya.
Ia menilai penguatan US Dollar Index dan kenaikan yield US Treasury berpotensi membawa rupiah semakin dekat dengan level psikologis Rp18.000 per dolar AS.
Risiko terhadap pasar domestik juga semakin besar apabila ketegangan geopolitik global kembali meningkat. Menurut Gunawan, perubahan tensi geopolitik yang berlangsung cepat dapat memperbesar tekanan terhadap aset-aset keuangan di negara berkembang, termasuk Indonesia.
“Lonjakan pada USD Index dan imbal hasil US Treasury akan membuat Rupiah kian mendekati level psikologis 18 ribu. Dan yang perlu dikhawatirkan selanjutnya adalah tensi geopolitik yang memburuk dan dengan mudah berubah suatu saat,” ungkapnya.
Gunawan juga mengingatkan bahwa tekanan dapat semakin kuat apabila sinyal kenaikan suku bunga acuan Bank Sentral AS semakin nyata. Kondisi tersebut berpotensi memicu koreksi di pasar keuangan domestik sekaligus memberikan tekanan terhadap sejumlah komoditas.
“Tekanan kian memburuk jika sinyal kenaikan bunga acuan oleh Bank Sentral AS kian mendekati kenyataan, hal ini juga akan memicu koreksi pada pasar keuangan di tanah air serta tekanan pada harga komoditas khususnya emas,” ujarnya.
IHSG Ikut Tertekan, Emas Turun ke US$4.290
Bukan hanya rupiah, pasar saham domestik juga ikut berada dalam tekanan. IHSG dibuka melemah di level 6.364, sejalan dengan koreksi yang terjadi di mayoritas bursa saham kawasan Asia.
Gunawan memperkirakan tekanan masih akan mewarnai perdagangan IHSG dan rupiah selama sesi berlangsung, terutama jika sentimen negatif dari pasar global belum mereda.
Di sisi lain, harga emas dunia juga kembali mengalami koreksi. Harga emas berada di kisaran US$4.290 per troy ounce, atau sekitar Rp2,48 juta per gram.
Menurut Gunawan, pelemahan harga emas tersebut tidak terlepas dari penguatan dolar AS. Selain itu, kenaikan harga minyak mentah jenis Brent yang berada di sekitar US$102 per barel turut menjadi perhatian pasar.
“Kenaikan harga minyak mentah dunia jenis Brent dikisaran level $102 per barel ditambah dengan membaiknya kinerja USD Index, memicu koreksi yang terjadi pada harga emas,” pungkasnya. (R)





