MEDAN, Index Sumut – Pasar keuangan Indonesia menghadapi tekanan cukup berat pada awal pekan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) melemah hingga berada di bawah level psikologis 6.200, sementara nilai tukar rupiah kembali tertekan dan nyaris menyentuh level Rp18.000 per dolar Amerika Serikat (AS).

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap pasar keuangan domestik terjadi di tengah meningkatnya perhatian investor terhadap sejumlah agenda ekonomi penting yang akan dirilis dalam sepekan ke depan.

Dari dalam negeri, pasar akan mencermati rilis data inflasi Indonesia yang menjadi salah satu indikator penting dalam membaca arah kebijakan suku bunga ke depan. Namun, Gunawan menilai data tersebut kemungkinan belum memberikan perubahan besar terhadap kinerja pasar keuangan nasional.

“Dalam sepekan ke depan ada banyak agenda ekonomi penting yang akan dirilis, baik dari dalam maupun luar negeri. Dari dalam negeri ada rilis data inflasi yang akan menjadi salah satu acuan bagaimana pasar melihat kemungkinan perubahan suku bunga acuan ke depan,” kata Gunawan, Senin (28/9).

Selain data domestik, perhatian investor juga tertuju pada indeks manufaktur China dan data inflasi AS. Kedua data tersebut dinilai dapat memberikan gambaran mengenai arah perekonomian global sekaligus kebijakan suku bunga bank sentral AS atau The Fed.

Menurut Gunawan, kenaikan inflasi AS dapat memperbesar ruang bagi The Fed untuk mempertahankan kebijakan moneter ketat hingga penghujung 2026.

“Data inflasi AS akan menjadi perhatian karena kenaikan inflasi bisa membuat The Fed semakin dekat dengan kebijakan pengetatan moneter hingga tutup tahun 2026,” ujarnya.

Harga Minyak Kembali Naik

Tekanan terhadap pasar keuangan juga datang dari perkembangan geopolitik di Timur Tengah. Eskalasi konflik di kawasan tersebut kembali menjadi perhatian pelaku pasar dan mendorong harga minyak mentah naik.

Harga minyak Brent pada perdagangan awal pekan berada di kisaran US$106,7 per barel. Kenaikan harga minyak menjadi sentimen negatif bagi pasar keuangan karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global.

“Di luar data ekonomi tersebut, pelaku pasar tentu akan disuguhi dinamika geopolitik di kawasan Timur Tengah. Di awal pekan ini tensi geopolitik masih belum padam dan eskalasinya kembali meningkat,” jelas Gunawan.

Kondisi tersebut turut memicu pelemahan mayoritas bursa saham Asia pada perdagangan pagi.

Di dalam negeri, IHSG saat pembukaan perdagangan terpantau berada di sekitar 6.209 dan kemudian bergerak di bawah level psikologis 6.200.

Pada saat yang sama, rupiah kembali mengalami tekanan. Nilai tukar rupiah berada di sekitar Rp17.950 per dolar AS, semakin dekat dengan level Rp18.000.

Rupiah Berpeluang Sentuh Rp18.000

Gunawan menilai tekanan terhadap rupiah masih cukup besar. Salah satu faktor yang menjadi perhatian adalah imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang masih berada di atas 5,2%.

Kondisi tersebut menunjukkan tekanan jual di pasar surat utang AS masih berlanjut. Tingginya yield US Treasury juga berpotensi menarik likuiditas global ke aset berbasis dolar AS.

“Imbal hasil US Treasury masih bertengger di atas 5,2 persen. Ini menunjukkan tekanan jual di pasar surat utang masih berlanjut. Tekanan tersebut bisa merembet ke pasar obligasi negara lain karena terjadi perebutan likuiditas yang semakin ketat,” kata Gunawan.

Dengan kondisi tersebut, rupiah dinilai memiliki peluang untuk menguji level Rp18.000 per dolar AS pada perdagangan hari ini.

“Pada perdagangan hari ini rupiah sangat berpeluang untuk ditransaksikan di level Rp18.000 per dolar AS. Sementara IHSG berpeluang menguji level 6.150,” ujarnya.

Di sisi lain, tekanan juga terlihat pada pasar emas. Harga emas dunia diperdagangkan melemah ke sekitar US$4.215 per troy ounce, atau setara dengan sekitar Rp2,4 juta per gram.

Pergerakan pasar keuangan pada awal pekan ini selanjutnya akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik Timur Tengah, pergerakan harga minyak, yield US Treasury, serta rilis sejumlah data ekonomi penting dari Indonesia, China dan AS. (R)

Share: