BELAWAN, Index Sumut – Arus peti kemas yang ditangani PT Prima Multi Terminal (PMT) di Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung, Sumatera Utara, mencapai 470.419 twenty-foot equivalent units (TEUs) hingga Agustus 2026.

Capaian tersebut tumbuh sekitar 3 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya. Pertumbuhan ini berlangsung di tengah tekanan ekonomi global dan perlambatan perdagangan internasional.

PT Prima Multi Terminal mencatat, aktivitas distribusi domestik yang masih relatif kuat menjadi salah satu penopang utama pertumbuhan arus barang. Selain itu, peningkatan ekspor komoditas dan produk hasil hilirisasi dari sejumlah kawasan industri di Sumatera turut memberikan kontribusi terhadap aktivitas kepelabuhanan.

Pertumbuhan signifikan tercatat pada layanan peti kemas internasional di Terminal 2 Kuala Tanjung. Hingga Agustus 2026, volume peti kemas internasional mencapai 28.951 TEUs, atau melonjak 276 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Secara keseluruhan, aktivitas bongkar muat peti kemas di terminal tersebut mencapai 50.542 TEUs, meningkat 16 persen secara tahunan.

Peningkatan aktivitas tersebut sejalan dengan kegiatan ekspor-impor serta distribusi bahan baku industri, barang konsumsi, dan kebutuhan manufaktur yang masih menopang aktivitas sektor industri nasional.

Barang Nonpeti Kemas Juga Tumbuh

Tidak hanya sektor peti kemas, layanan barang nonpeti kemas di Terminal Kuala Tanjung juga menunjukkan pertumbuhan positif.

Hingga Agustus 2026, volume barang nonpeti kemas yang ditangani mencapai 690.578 ton, atau meningkat 13 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.

Pertumbuhan tersebut mencerminkan meningkatnya distribusi komoditas curah dan kebutuhan industri dari kawasan hinterland Sumatera melalui pelabuhan tersebut.

Direktur Utama PT Prima Multi Terminal Rudi Susanto mengatakan, pertumbuhan arus barang hingga Agustus 2026 menunjukkan aktivitas ekonomi di Sumatera masih berlangsung positif, meskipun perdagangan global menghadapi berbagai tantangan.

“Distribusi domestik masih menjadi penopang utama arus barang. Sementara itu, aktivitas ekspor dari sektor industri pengolahan dan komoditas mulai memberikan kontribusi yang lebih besar,” kata Rudi.

Menurut Rudi, industri kepelabuhanan masih menghadapi sejumlah tantangan, mulai dari perubahan jaringan pelayaran internasional, pergeseran rantai pasok global hingga dinamika geopolitik.

Kondisi tersebut, lanjutnya, dapat berdampak terhadap biaya logistik dan waktu pengiriman barang. Karena itu, efisiensi operasional menjadi salah satu faktor penting untuk menjaga daya saing pelabuhan sekaligus memastikan kelancaran arus barang.

Efisiensi Operasional Terus Diperkuat

Dari sisi kinerja operasional, PMT mencatat rasio effective time terhadap berthing time (ET/BT) di Terminal Belawan mencapai 85,42 persen.

Sementara itu, rasio ET/BT di Terminal Kuala Tanjung tercatat 71,91 persen untuk layanan internasional dan 66,70 persen untuk layanan domestik.

Untuk mempertahankan dan meningkatkan kinerja tersebut, perusahaan melakukan optimalisasi operasional melalui peningkatan utilisasi peralatan bongkar muat, penataan lapangan penumpukan, serta penguatan koordinasi dengan pengguna jasa dan antarterminal.

Selain efisiensi, aspek keselamatan dan kesehatan kerja (K3) juga menjadi perhatian perusahaan.

PMT terus memperkuat penerapan program K3 melalui inspeksi berkala, standardisasi peralatan operasional, serta peningkatan kompetensi tenaga kerja. Langkah tersebut dilakukan untuk mempertahankan target nihil kecelakaan kerja.

Rudi mengatakan, keberadaan pelabuhan tidak dapat dipisahkan dari kebutuhan distribusi barang dan perkembangan kawasan industri di Sumatera. Menurutnya, peningkatan keandalan layanan pelabuhan menjadi bagian penting dalam mendukung efisiensi rantai pasok.

“Pelabuhan bukan hanya menjadi tempat keluar-masuk barang, tetapi juga bagian dari rantai pasok yang menentukan efisiensi industri. Keandalan dan efisiensi layanan perlu terus ditingkatkan agar pelaku usaha dapat mengendalikan biaya distribusi dan memperkuat daya saing produk Indonesia,” ujarnya.

Berada di Jalur Strategis Selat Malaka

Pelabuhan Belawan dan Kuala Tanjung berada di jalur pelayaran internasional Selat Malaka. Posisi geografis tersebut menjadikan kedua pelabuhan memiliki peran strategis sebagai simpul logistik di wilayah barat Indonesia.

Ke depan, peluang pengembangan layanan kepelabuhanan juga berkaitan erat dengan pertumbuhan kawasan industri serta keberlanjutan program hilirisasi di Sumatera.

Perkembangan kedua sektor tersebut berpotensi meningkatkan kebutuhan terhadap layanan logistik dan kepelabuhanan. Kondisi ini sekaligus menempatkan peningkatan kapasitas, efisiensi operasional, keselamatan kerja, dan keandalan layanan sebagai faktor penting dalam mendukung kelancaran rantai pasok industri di Sumatera.

Dengan pertumbuhan arus peti kemas dan barang nonpeti kemas hingga Agustus 2026, PMT terus mendorong optimalisasi layanan di Belawan dan Kuala Tanjung untuk mendukung aktivitas perdagangan, distribusi domestik, ekspor-impor, serta perkembangan kawasan industri di Sumatera. (R)

Share: