MEDAN, Index Sumut – Tensi geopolitik global kembali memanas dan mulai menekan pasar keuangan. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) masih bergerak di zona merah, sementara harga emas dunia terkoreksi di tengah meningkatnya kekhawatiran terhadap eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap pasar keuangan terjadi meskipun fundamental eksternal Indonesia masih menunjukkan sejumlah perkembangan positif.
Salah satunya tercermin dari neraca perdagangan Indonesia pada Agustus yang mencatat surplus sekitar US$3,55 miliar. Namun, data tersebut belum mampu menjadi katalis positif bagi pergerakan rupiah.
“Data neraca perdagangan tanah air pada bulan Agustus mencatatkan kenaikan sebanyak 3.55 miliar US Dolar. Data yang dirilis pada perdagangan sehari sebelumnya itu nyatanya tidak mampu membuat Rupiah menguat terhadap US Dolar. Tekanan eksternal menjadi pemicu utama melemahnya Rupiah pada perdagangan sebelumnya,” kata Gunawan, Jumat (2/10).
Menurut dia, tekanan eksternal kembali terlihat pada perdagangan pasar saham Asia. Sejumlah bursa regional bergerak di zona merah dan kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan IHSG.
Pada perdagangan pagi, IHSG sempat dibuka menguat ke level 6.018. Namun, penguatan tersebut tidak bertahan lama. IHSG kemudian berbalik melemah dan kembali mencoba menembus level psikologis 6.000.
Gunawan memproyeksikan IHSG akan bergerak dalam rentang 5.930 hingga 6.030 pada perdagangan kali ini.
“Secara teknikal IHSG bisa membentuk tren bearish yang baru jika ditransaksikan di bawah level psikologis 6.000,” ujarnya.
Rupiah Menguat Tipis
Di tengah tekanan terhadap pasar saham, pergerakan rupiah justru menunjukkan penguatan tipis. Rupiah ditransaksikan di kisaran Rp17.930 per dolar AS.
Namun, Gunawan mengingatkan bahwa kondisi pasar keuangan masih rentan terhadap perkembangan geopolitik global, khususnya jika eskalasi konflik di kawasan Timur Tengah kembali meningkat.
“Di sisi lain mata uang Rupiah ditransaksikan menguat tipis ke level 17.930 per US Dolar. Tekanan pada pasar keuangan diproyeksikan kembali memburuk dalam waktu dekat seiring dengan potensi eskalasi konflik yang meningkat di Selat Hormuz,” katanya.
Kekhawatiran pasar salah satunya dipicu kabar bahwa Amerika Serikat tengah mempertimbangkan pengiriman kapal induk tambahan ke kawasan Timur Tengah. Perkembangan tersebut dinilai pasar sebagai sinyal potensi eskalasi konflik baru.
Dampaknya mulai tercermin pada pasar komoditas. Harga minyak mentah Brent kembali bergerak di kisaran US$103 per barel.
Kenaikan harga minyak menjadi perhatian karena berpotensi meningkatkan tekanan inflasi global. Bagi negara-negara importir energi, kenaikan harga minyak juga dapat memperbesar tekanan terhadap biaya produksi, neraca perdagangan, serta nilai tukar.
Emas Ikut Terkoreksi
Di sisi lain, harga emas yang sebelumnya menjadi salah satu aset yang banyak diburu ketika ketidakpastian meningkat, justru mengalami koreksi.
Gunawan menyebut inflasi masih menjadi salah satu persoalan utama yang perlu diperhatikan pelaku pasar karena dapat memengaruhi kinerja sektor keuangan maupun pergerakan harga komoditas.
“Inflasi masih akan menjadi masalah utama bagi kinerja sektor keuangan dan harga komoditas. Dan di tengah kabar tersebut harga emas ditransaksikan melemah ke level $4.148 per ons troy atau sekitar 2.4 juta per gramnya,” jelasnya.
Menurut Gunawan, perkembangan geopolitik masih akan menjadi faktor dominan yang menggerakkan pasar dalam jangka pendek.
“Tensi geopolitik yang memburuk akan kembali menjadi sentimen utama penggerak pasar dalam jangka pendek,” pungkasnya. (R)





