MEDAN, Index Sumut – Imbal hasil (yield) US Treasury 10 tahun yang menembus level 5,3% kembali menjadi perhatian pelaku pasar. Kenaikan yield obligasi pemerintah Amerika Serikat (AS) tersebut meningkatkan tekanan terhadap aset-aset di pasar negara berkembang, termasuk rupiah.
Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan jual pada obligasi AS menjadi salah satu sentimen eksternal yang berpotensi menahan penguatan rupiah dalam jangka pendek. Di tengah kondisi tersebut, indeks dolar AS masih relatif stabil di kisaran 102,1.
Pada perdagangan Selasa (6/10) pagi, rupiah bergerak stabil dengan kecenderungan melemah di sekitar level Rp17.915 per dolar AS.
“Tekanan jual pada surat utang AS masih berpeluang mendorong tekanan serupa pada pasar keuangan tanah air,” kata Gunawan Benjamin dalam analisisnya.
Menurut Gunawan, tekanan dari pasar obligasi AS membuat rupiah belum memiliki ruang yang cukup untuk keluar dari tekanan dalam waktu dekat. Kondisi tersebut juga diperburuk oleh risiko inflasi global yang masih tinggi di tengah konflik di Timur Tengah yang belum sepenuhnya mereda.
Di sisi lain, minimnya agenda ekonomi besar pada perdagangan hari ini memberikan peluang bagi sektor keuangan untuk bergerak lebih positif. Harga minyak mentah Brent juga terpantau melemah ke sekitar US$100 per barel, sehingga sedikit memberikan ruang bagi pasar untuk bernapas.
IHSG Berpeluang Bergerak Terbatas
Untuk pasar saham domestik, IHSG pada pembukaan perdagangan bergerak menguat tipis ke level 6.149. Gunawan memperkirakan IHSG masih berpeluang bergerak dalam rentang 6.100-6.170.
Namun, peluang penguatan tersebut masih dibayangi pergerakan bursa saham Asia yang cenderung mendatar. Jika tekanan di pasar regional meningkat, IHSG berpotensi kembali masuk ke zona negatif sepanjang sesi perdagangan.
“Minimnya agenda ekonomi besar pada dasarnya berpeluang mendorong penguatan pada kinerja sektor keuangan,” ujar Gunawan.
Sementara itu, rupiah diperkirakan bergerak dalam rentang Rp17.850-Rp17.950 per dolar AS sepanjang perdagangan.
Emas Ikut Terkoreksi
Tekanan juga terlihat pada aset safe haven. Harga emas dunia terkoreksi ke level US$4.126 per troy ounce, atau sekitar Rp2,38 juta per gram.
Koreksi emas terjadi ketika yield US Treasury meningkat. Kenaikan imbal hasil obligasi AS dapat meningkatkan daya tarik aset berbasis dolar dan memberikan tekanan terhadap emas yang tidak memberikan imbal hasil.
Dengan kondisi tersebut, pasar keuangan domestik masih menghadapi kombinasi sentimen eksternal yang cukup berat. Yield US Treasury yang berada di atas 5,3%, ketidakpastian konflik Timur Tengah, risiko inflasi, serta pergerakan bursa Asia menjadi faktor yang perlu dicermati investor dalam jangka pendek.
Gunawan menilai, selama tekanan dari pasar obligasi AS belum mereda, rupiah masih berpotensi bertahan dalam tekanan, sementara IHSG dan emas akan bergerak mengikuti perkembangan sentimen global. (R)





