MEDAN, Index Sumut – Kenaikan inflasi China pada September 2026 menjadi salah satu sentimen eksternal yang membayangi pergerakan pasar keuangan global. Kondisi ini terjadi di tengah kenaikan harga energi dunia yang berpotensi menambah tekanan inflasi dan memengaruhi keputusan investasi pelaku pasar.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin, menilai pergerakan Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) dan nilai tukar rupiah masih rentan mengalami tekanan di tengah beragam sentimen negatif dari pasar global.

Inflasi China pada September tercatat sebesar 0,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy), meningkat dibandingkan bulan sebelumnya yang sebesar 0,8 persen. Kenaikan tersebut mengindikasikan tekanan harga di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia itu mulai meningkat.

Sentimen tersebut turut membayangi perdagangan bursa saham Asia. Pasar saham China bergerak di zona merah pada sesi pagi, sementara mayoritas bursa di kawasan Asia bergerak bervariasi dengan kecenderungan melemah.

IHSG sempat dibuka menguat ke level 5.940, tetapi kemudian kembali bergerak di zona merah. Tekanan pasar membuat indeks saham domestik berpotensi menguji kembali level psikologis 5.900.

“Di tengah banyaknya sentimen negatif eksternal pada perdagangan hari ini, IHSG diproyeksikan akan kesulitan untuk bertahan di zona hijau,” demikian analisis Gunawan Benjamin, Rabu (14/10).

Ia memperkirakan IHSG bergerak dalam rentang 5.870 hingga 5.980 sepanjang sesi perdagangan. Pelaku pasar perlu mencermati perkembangan sentimen global yang dapat memengaruhi arah pergerakan indeks.

Rupiah Tertekan, Peluang Penguatan Masih Terbuka

Di pasar valuta asing, rupiah juga bergerak melemah terhadap dolar Amerika Serikat (AS). Mata uang Garuda berada di level Rp17.915 per dolar AS dan sempat menyentuh Rp17.930 pada perdagangan pagi.

Meski demikian, peluang penguatan rupiah masih terbuka. Hal ini sejalan dengan indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) yang terkoreksi tipis ke kisaran 102,1 serta imbal hasil obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun (US Treasury yield) yang turun tipis ke sekitar 5,21 persen.

Penurunan kedua indikator tersebut berpotensi memberikan ruang bagi rupiah untuk bergerak lebih baik. Namun, arah pergerakan mata uang domestik tetap akan dipengaruhi perkembangan ekonomi global dan respons investor terhadap data terbaru dari AS.

Pelaku pasar juga perlu mewaspadai potensi peningkatan tekanan terhadap pasar keuangan menjelang rilis data inflasi AS untuk September. Apabila inflasi tercatat lebih tinggi dari perkiraan, ekspektasi kebijakan suku bunga bank sentral AS atau Federal Reserve dapat berubah dan memicu penyesuaian portofolio investasi.

Harga Emas Bergerak Mendatar

Sementara itu, harga emas dunia terpantau relatif stabil di kisaran USD4.163 per troy ounce atau sekitar Rp2,4 juta per gram.

Pergerakan emas yang cenderung mendatar atau sideways menunjukkan pelaku pasar masih mencermati arah perkembangan ekonomi global, khususnya potensi kenaikan inflasi AS.

Jika inflasi AS kembali meningkat, pasar berpotensi menyesuaikan ekspektasi terhadap kebijakan moneter dan pergerakan imbal hasil obligasi. Kondisi tersebut dapat memengaruhi daya tarik emas sebagai aset lindung nilai maupun instrumen investasi.

Dengan demikian, pelaku pasar perlu mencermati perkembangan inflasi di China dan AS, pergerakan harga energi, indeks dolar, serta imbal hasil obligasi pemerintah AS. Kombinasi faktor tersebut akan menjadi penentu penting bagi arah IHSG, rupiah, dan harga emas dalam jangka pendek. (R)

Share: