JAKARTA, Index Sumut – Masa depan ratusan juta anak di dunia masih dibayangi kemiskinan. Bukan sekadar kekurangan uang, jutaan anak harus menghadapi keterbatasan akses pendidikan, layanan kesehatan, gizi, air bersih, listrik, hingga tempat tinggal layak. Kondisi ini membuat mereka kehilangan kesempatan untuk tumbuh dan berkembang secara optimal sejak usia dini.
Laporan Global Multidimensional Poverty Index (MPI) 2026: Statistical Update yang dirilis United Nations Development Programme (UNDP) bersama Oxford Poverty and Human Development Initiative (OPHI) dari University of Oxford mengungkap fakta memprihatinkan. Sebanyak 617 juta anak berusia di bawah 18 tahun hidup dalam kemiskinan multidimensi.
Jumlah tersebut setara dengan 51,5 persen dari total 1,2 miliar penduduk yang mengalami kemiskinan multidimensi di 108 negara yang diteliti. Artinya, lebih dari separuh penduduk miskin dalam cakupan penelitian tersebut merupakan anak-anak.
Laporan itu juga memperkirakan sekitar satu dari tiga anak mengalami kemiskinan multidimensi. Sementara pada kelompok dewasa, perbandingannya jauh lebih rendah, yakni satu dari tujuh orang.
“Perbedaan ini memperlihatkan bahwa usia menjadi faktor penting untuk memahami siapa yang paling rentan menghadapi krisis kebutuhan dasar,” tulis laporan resmi UNDP dan Oxford, dikutip Minggu (25/10/2026).
BUKAN SEKADAR PERSOALAN PENDAPATAN
Besarnya jumlah anak yang terjebak dalam kemiskinan menunjukkan bahwa persoalan kesejahteraan tidak bisa hanya dilihat dari pendapatan keluarga. Anak-anak juga menghadapi risiko kehilangan akses terhadap kebutuhan dasar yang menentukan kualitas hidup dan masa depan mereka.
Dalam metode MPI, kemiskinan diukur melalui sejumlah indikator, antara lain gizi, angka kematian anak, partisipasi sekolah, sanitasi, akses listrik, air bersih, serta kelayakan tempat tinggal.
Dengan pendekatan tersebut, anak-anak dapat mengalami kemiskinan meskipun persoalan yang dihadapi keluarganya tidak semata-mata berkaitan dengan rendahnya pendapatan. Ketiadaan listrik dan air bersih, misalnya, dapat memengaruhi kesehatan, proses belajar, dan kualitas kehidupan sehari-hari.
Begitu pula dengan keterbatasan pendidikan di lingkungan keluarga maupun kondisi yang memaksa anak usia sekolah meninggalkan bangku pendidikan.
“Lebih dari separuh atau 51,5% dari seluruh penduduk miskin adalah anak-anak berusia di bawah 18 tahun,” tegas UNDP.
Temuan tersebut memperlihatkan pentingnya kebijakan pengentasan kemiskinan yang secara khusus memperhatikan kebutuhan anak. Bantuan tunai saja tidak cukup jika tidak disertai jaminan akses terhadap makanan bergizi, layanan kesehatan, pendidikan berkualitas, air bersih, sanitasi, dan hunian yang layak.
Tanpa intervensi yang tepat, keterbatasan tersebut berpotensi menghambat perkembangan anak dan memperpanjang lingkaran kemiskinan antargenerasi.
AFRIKA SUB-SAHARA DAN ASIA SELATAN PALING TERTEKAN
Dari sisi geografis, Afrika Sub-Sahara menjadi kawasan dengan beban kemiskinan anak terbesar. Wilayah ini mencatat 355 juta anak miskin multidimensi, setara dengan 57,7 persen dari seluruh penduduk miskin di kawasan tersebut.
Permasalahan utama di Afrika Sub-Sahara berkaitan dengan terbatasnya infrastruktur dan layanan dasar. Akses terhadap listrik, air bersih, serta bahan bakar memasak yang layak masih menjadi tantangan besar bagi banyak keluarga.
Asia Selatan menempati urutan berikutnya dengan 181 juta anak yang hidup dalam kemiskinan multidimensi. Jumlah itu setara dengan 46,1 persen dari total penduduk miskin di kawasan tersebut.
Berbeda dengan Afrika Sub-Sahara, persoalan kemiskinan anak di Asia Selatan lebih banyak berkaitan dengan gizi buruk, kualitas hunian yang tidak memadai, serta tingginya angka anak putus sekolah.
Perbedaan karakteristik tersebut menunjukkan bahwa upaya mengatasi kemiskinan anak tidak bisa menggunakan pendekatan yang seragam. Pemerintah di setiap kawasan perlu menyesuaikan kebijakan dengan persoalan mendasar yang dihadapi masyarakat, mulai dari pemenuhan infrastruktur hingga peningkatan kualitas gizi dan pendidikan.
KEMISKINAN ANAK BISA DITEKAN LEBIH CEPAT
Di tengah besarnya tantangan, laporan UNDP dan OPHI juga mengungkap peluang untuk mempercepat pengentasan kemiskinan. Data menunjukkan bahwa tingkat kemiskinan multidimensi pada anak dapat menurun lebih cepat dibandingkan kelompok dewasa apabila didukung intervensi yang tepat.
Dari 102 periode pengamatan negara yang berhasil menurunkan nilai MPI, sebanyak 84 periode di 61 negara mencatat penurunan kemiskinan anak yang lebih cepat dibandingkan orang dewasa.
“Nilai MPI anak-anak turun lebih cepat daripada nilai MPI orang dewasa dalam 84 periode,” sebut UNDP.
Meski demikian, kemajuan tersebut belum terjadi secara merata. Dalam sejumlah kasus, kondisi kemiskinan orang dewasa membaik, sementara kemiskinan yang dialami anak-anak justru tidak menunjukkan perkembangan berarti.
Kesenjangan ini menjadi pengingat bahwa keberhasilan program pengentasan kemiskinan tidak cukup diukur melalui perbaikan kondisi rumah tangga secara keseluruhan. Pemerintah juga perlu memantau apakah anak-anak benar-benar memperoleh manfaat dari kebijakan yang dijalankan.
Karena itu, pemilahan data berdasarkan kelompok usia menjadi penting agar kebutuhan anak tidak tenggelam dalam angka kemiskinan agregat.
TARGET SDGs 2030 JADI TANTANGAN
Pengurangan kemiskinan multidimensi hingga separuhnya pada 2030 merupakan salah satu target Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Laporan UNDP dan OPHI mencatat sebanyak 33 negara telah berhasil memangkas separuh nilai MPI mereka dalam waktu kurang dari 15 tahun. Capaian tersebut menunjukkan bahwa pengurangan kemiskinan dalam skala besar bukan hal yang mustahil apabila didukung kebijakan yang tepat dan berkelanjutan.
Namun, besarnya jumlah anak yang masih mengalami kemiskinan multidimensi menunjukkan bahwa pekerjaan rumah global masih sangat besar.
Pemanfaatan data kemiskinan yang terperinci hingga tingkat daerah, penguatan layanan publik, serta penyaluran bantuan yang tepat sasaran menjadi bagian penting dalam mempercepat perbaikan kondisi kehidupan anak.
Pada akhirnya, keberhasilan pengentasan kemiskinan tidak hanya ditentukan oleh berkurangnya jumlah penduduk miskin, tetapi juga oleh kemampuan negara memastikan setiap anak memperoleh kesempatan yang layak untuk tumbuh, belajar, dan membangun masa depan. (Lip6)





