MEDAN, Index Sumut – Awal pekan ini, pasar keuangan domestik dibuka dengan dinamika yang berlawanan arah. Rupiah melemah hingga menembus Rp16.630 per USD, sementara harga emas dunia justru terus menanjak mendekati level psikologis USD 3.700 per ons troy.
IHSG sempat dibuka menguat di level 8.082 sejalan dengan bursa Asia yang bergerak positif, setelah Bank Sentral China mempertahankan suku bunga pinjaman acuannya. Meski begitu, peluang koreksi masih membayangi indeks, terutama karena tekanan dari pelemahan rupiah.
Pengamat Pasar Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin, menilai kondisi ini menegaskan bahwa pasar lebih dipengaruhi oleh faktor teknikal ketimbang fundamental.
“Pelemahan rupiah tidak hanya dipicu oleh penguatan indeks dolar AS, tetapi juga karena naiknya imbal hasil obligasi AS. Situasi ini membuat investor lebih berhati-hati, sehingga potensi koreksi di IHSG cukup besar,” jelas Gunawan di Medan, Senin (22/9).
Namun ia menambahkan, ruang penguatan rupiah masih terbuka hingga penutupan perdagangan, terutama jika ada langkah intervensi dari Bank Indonesia.
Di sisi lain, harga emas dunia kini diperdagangkan di USD 3.690 per ons troy, atau setara Rp1,98 juta per gram. Kenaikan ini menjadi sinyal kuat bahwa investor global mulai mencari perlindungan pada aset aman (safe haven).
“Kenaikan harga emas adalah respon atas ketidakpastian ekonomi global. Investor global cenderung menempatkan dana ke instrumen yang dianggap lebih aman, dan hal ini bisa berlanjut jika rupiah tidak kunjung stabil,” pungkas Gunawan. (R)





