MEDAN, Index Sumut – Kinerja sektor pertanian di Sumatera Utara menunjukkan tren menggembirakan. Nilai Tukar Petani (NTP) Provinsi Sumatera Utara pada Maret 2026 tercatat sebesar 157,16 atau naik 1,90 persen dibandingkan Februari 2026 yang berada di level 154,23.

Kepala Badan Pusat Statistik Provinsi Sumatera Utara, Asim Saputra, menyebutkan bahwa kenaikan ini mencerminkan membaiknya daya beli petani di perdesaan.

“NTP merupakan indikator penting untuk melihat kemampuan tukar hasil pertanian terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi maupun biaya produksi. Kenaikan NTP menunjukkan kondisi petani yang relatif lebih baik,” ujar Asim, Rabu (1/4).

Ia menjelaskan, kenaikan NTP pada Maret 2026 didorong oleh meningkatnya NTP di seluruh subsektor pertanian. Subsektor tanaman perkebunan rakyat mencatat kenaikan tertinggi sebesar 2,72 persen, disusul subsektor perikanan 1,14 persen, tanaman pangan 0,73 persen, peternakan 0,56 persen, dan hortikultura 0,46 persen.

Dari sisi komponen pembentuknya, Indeks Harga yang Diterima Petani (It) naik 1,48 persen, dari 192,65 menjadi 195,50. Kenaikan ini menunjukkan harga komoditas pertanian yang dijual petani mengalami perbaikan di seluruh subsektor.

Sementara itu, Indeks Harga yang Dibayar Petani (Ib) justru turun sebesar 0,41 persen, dari 124,91 menjadi 124,39. Penurunan ini menandakan adanya penurunan biaya konsumsi rumah tangga maupun biaya produksi pertanian di sejumlah subsektor.

“Kombinasi kenaikan harga jual hasil pertanian dan penurunan biaya yang ditanggung petani menjadi faktor utama meningkatnya NTP,” jelasnya.

Secara lebih rinci, pada subsektor tanaman pangan, kenaikan NTP dipicu oleh naiknya harga gabah, sementara biaya konsumsi dan produksi menurun. Pada hortikultura, kenaikan didorong lonjakan harga buah-buahan meskipun harga sayuran mengalami penurunan.

Subsektor perkebunan rakyat menjadi penyumbang terbesar kenaikan NTP, terutama didorong oleh naiknya harga komoditas unggulan seperti kelapa sawit dan karet. Sementara pada subsektor peternakan, kenaikan dipengaruhi oleh meningkatnya harga sapi potong dan ayam kampung.

Di sektor perikanan, peningkatan NTP didukung oleh naiknya harga ikan tangkap maupun budidaya, termasuk komoditas nila, tongkol, dan ikan mas.

Selain itu, Nilai Tukar Usaha Rumah Tangga Pertanian (NTUP) juga mengalami kenaikan sebesar 2,11 persen. Kenaikan ini menunjukkan bahwa usaha pertanian secara keseluruhan semakin menguntungkan, didorong oleh naiknya pendapatan petani dan turunnya biaya produksi.

Meski demikian, Asim mengingatkan bahwa fluktuasi harga komoditas pangan tetap perlu diwaspadai, terutama komoditas hortikultura seperti cabai dan bawang yang cenderung bergejolak.

“Ke depan, stabilitas harga dan efisiensi biaya produksi harus terus dijaga agar tren positif ini dapat berlanjut dan kesejahteraan petani semakin meningkat,” pungkasnya. (R)

Share: