JAKARTA, Index Sumut – Tekanan di pasar keuangan global mulai mereda setelah Amerika Serikat (AS) dan Iran menyepakati gencatan senjata selama dua pekan. Kesepakatan yang dimediasi Pakistan tersebut langsung disambut positif oleh pelaku pasar, ditandai dengan penguatan tajam di sejumlah instrumen keuangan, Rabu (8/4).

Bursa saham regional Asia pada perdagangan pagi bergerak di zona hijau. Di dalam negeri, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) turut dibuka menguat signifikan ke level 7.160.

Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin, menilai meredanya tensi geopolitik menjadi katalis utama penguatan pasar saat ini.

“Kesepakatan gencatan senjata ini meskipun bersifat sementara, mampu meredakan kekhawatiran pelaku pasar. Ini yang mendorong aliran dana kembali masuk ke pasar keuangan, termasuk ke emerging market seperti Indonesia,” ujarnya.

Sejalan dengan itu, nilai tukar Rupiah juga menunjukkan penguatan signifikan. Pada sesi perdagangan pagi, Rupiah berada di kisaran Rp16.980 per dolar AS, menguat dari posisi sebelumnya yang sempat menyentuh Rp17.100 per dolar AS.

Tidak hanya itu, harga emas dunia juga melonjak tajam ke level 4.702 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,58 juta per gram, mencerminkan meningkatnya minat investor terhadap aset lindung nilai di tengah ketidakpastian global.

Menurut Gunawan, selain meredakan tekanan pasar keuangan, kesepakatan tersebut juga berdampak pada sektor energi global.

“Pembukaan kembali jalur distribusi di Selat Hormuz ikut menekan harga minyak mentah dunia. Ini menjadi sentimen positif karena dapat menurunkan tekanan inflasi global,” jelasnya.

Harga minyak dunia untuk jenis Brent dan WTI kini berada di bawah level 100 dolar AS per barel, masing-masing di kisaran 94 dolar AS dan 96 dolar AS per barel.

Penurunan harga minyak tersebut dinilai membuka peluang bagi kebijakan moneter yang lebih longgar di berbagai negara, seiring meredanya tekanan inflasi.

Meski demikian, Gunawan mengingatkan bahwa pasar masih dibayangi ketidakpastian tinggi dalam dua pekan ke depan.

“Gencatan senjata ini hanya bersifat sementara. Pelaku pasar akan sangat bergantung pada perkembangan geopolitik selanjutnya, sehingga data ekonomi belum sepenuhnya menjadi acuan utama dalam pengambilan keputusan investasi,” pungkasnya. (R)

Share: