WASHINGTON, Index Sumut – Hubungan antara Amerika Serikat dan sekutunya di NATO kembali memanas. Presiden Donald Trump dilaporkan mengancam negara-negara anggota yang dinilai tidak memberikan dukungan terhadap agenda militer AS, khususnya terkait konflik dengan Iran.
Ketegangan memuncak saat Trump bertemu Sekretaris Jenderal NATO, Mark Rutte, di Gedung Putih. Dalam pertemuan tersebut, Trump meluapkan kemarahannya atas sikap sejumlah negara Eropa yang membatasi akses pangkalan militer mereka untuk operasi AS.
Laporan Financial Times yang dikutip Sabtu (11/4/2026) menyebutkan, Trump secara khusus menyoroti Prancis dan Spanyol sebagai pihak yang dianggap tidak kooperatif. Meski mengancam akan menjatuhkan sanksi, Trump belum merinci langkah konkret yang akan diambil.
Di sisi lain, Rutte disebut memahami kekecewaan Trump, namun tetap berupaya menjaga keseimbangan dan soliditas aliansi pertahanan tersebut.
Ketidakpuasan Trump juga disampaikan secara terbuka melalui platform media sosial miliknya, Truth Social. Ia meragukan komitmen NATO dalam mendukung AS jika konflik di Timur Tengah semakin meluas.
“NATO telah membuat kesalahan sangat bodoh dengan tidak mendukung AS dalam operasi militer melawan Iran,” tulis Trump.
Trump bahkan menyebut NATO sebagai aliansi “satu arah” yang dinilai lebih menguntungkan negara-negara Eropa tanpa kontribusi seimbang bagi Amerika Serikat.
Ketegangan ini merupakan bagian dari kelanjutan kebijakan America First yang selama ini menjadi ciri khas kepemimpinan Trump. Ia kerap mengkritik anggota NATO di Eropa karena dianggap tidak memenuhi target belanja pertahanan sebesar 2 persen dari produk domestik bruto (PDB).
Dalam konteks konflik Iran, perbedaan pendekatan antara AS dan Eropa semakin terlihat jelas. Negara-negara Eropa cenderung memilih jalur diplomasi dan de-eskalasi demi menjaga stabilitas kawasan serta keamanan pasokan energi.
Sebaliknya, AS di bawah kepemimpinan Trump mengambil pendekatan yang lebih agresif secara militer.
Penolakan akses pangkalan militer oleh Prancis dan Spanyol dinilai menjadi sinyal keretakan serius dalam hubungan trans-Atlantik. Sejumlah negara Eropa tampak mulai enggan terlibat dalam konflik terbuka yang berpotensi memperluas eskalasi di kawasan Timur Tengah. (inv)





