MEDAN, Index Sumut – Tekanan terhadap pasar keuangan nasional semakin kuat setelah nilai tukar rupiah menembus level Rp17.500 per dolar Amerika Serikat (AS), yang menjadi posisi terlemah sepanjang sejarah. Pelemahan rupiah dipicu meningkatnya tensi geopolitik di kawasan Timur Tengah, terutama memanasnya konflik antara Iran dan Amerika Serikat di Selat Hormuz.
Kondisi tersebut turut mendorong kenaikan harga minyak mentah dunia. Pada perdagangan pagi ini, harga minyak berada di kisaran 99 hingga 105 dolar AS per barel, lebih tinggi dibanding perdagangan sebelumnya. Pasar merespons negatif pernyataan Presiden AS terkait proposal gencatan senjata yang dinilai berada dalam situasi kritis, sehingga meningkatkan kekhawatiran terhadap gejolak ekonomi global.
Pengamat Ekonomi dan Keuangan Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, tekanan terhadap rupiah saat ini dipicu kombinasi faktor eksternal yang sangat kuat, terutama lonjakan harga energi dan meningkatnya ketidakpastian global.
Menurutnya, pasar saat ini cenderung mencari aset aman sehingga dana asing keluar dari pasar negara berkembang, termasuk Indonesia. Kondisi tersebut membuat nilai tukar rupiah semakin rentan mengalami tekanan.
“Ketika konflik geopolitik meningkat dan harga minyak melonjak, pasar akan menghindari risiko. Rupiah menjadi salah satu mata uang yang paling terdampak karena Indonesia masih memiliki ketergantungan terhadap impor energi,” ujar Gunawan Benjamin, Selasa (12/5).
Pelemahan rupiah turut menyeret kinerja pasar saham domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) yang sempat dibuka menguat di level 6.946 bahkan sempat naik lebih dari satu persen, akhirnya berbalik arah dan terkoreksi lebih dari satu persen pada sesi perdagangan siang.
Gunawan menilai, tekanan terhadap IHSG tidak hanya dipengaruhi pelemahan rupiah, tetapi juga sikap wait and see pelaku pasar terhadap hasil rebalancing indeks MSCI (Morgan Stanley Capital International). Keputusan MSCI dinilai akan sangat menentukan arah aliran modal asing dalam jangka pendek.
“Pasar masih menunggu hasil rebalancing MSCI. Jika hasilnya tidak sesuai ekspektasi pasar, maka tekanan terhadap IHSG maupun rupiah berpotensi semakin besar,” katanya.
Sementara itu, di tengah gejolak pasar keuangan global, harga emas dunia justru terus menunjukkan penguatan. Harga emas saat ini diperdagangkan di level 4.730 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,67 juta per gram.
Kenaikan harga emas didorong tingginya permintaan dari sejumlah bank sentral dunia, termasuk Bank Sentral China atau People’s Bank of China (PBoC), yang terus meningkatkan cadangan emas mereka sebagai langkah antisipasi terhadap ketidakpastian ekonomi global.
Menurut Gunawan, tren kenaikan harga emas mencerminkan meningkatnya kekhawatiran pasar terhadap risiko perlambatan ekonomi dan potensi krisis keuangan global jika konflik geopolitik terus meluas. (R)





