MEDAN, Index Sumut – Kenaikan harga crude palm oil (CPO) sepanjang Agustus ternyata belum mampu meningkatkan kesejahteraan petani sawit. Di tengah harga CPO yang terus bergerak naik, Nilai Tukar Petani (NTP) perkebunan rakyat justru mengalami penurunan.

Pengamat Ekonomi Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, harga CPO selama Juli hingga Agustus menunjukkan tren penguatan. Pada Juli, harga CPO bergerak di kisaran 4.500–4.700 ringgit per ton. Sementara sepanjang Agustus, harganya meningkat ke rentang sekitar 4.620 hingga 5.020 ringgit per ton.

Namun, kenaikan harga CPO tersebut tidak serta-merta diikuti peningkatan harga tandan buah segar (TBS) yang diterima petani.

“Harga CPO selama periode Juli hingga Agustus dalam tren naik. Di bulan Juli harga CPO bergerak dalam rentang 4.500 hingga 4.700-an ringgit per ton. Dan pada bulan Agustus harga CPO bergerak dalam rentang kisaran 4.620-an hingga 5.020-an ringgit per ton. Rata-rata harga CPO secara bulanan (month to month) alami kenaikan, meski demikian harga TBS selama periode Juli ke Agustus justru alami penurunan,” ujar Gunawan, Kamis (3/9).

Menurut Gunawan, penurunan harga TBS tersebut kemudian berdampak terhadap NTP perkebunan rakyat. NTP turun 0,42%, dari 224,31 pada Juli menjadi 223,38 pada Agustus.

Ia menjelaskan, salah satu faktor yang menekan harga TBS pada Agustus adalah siklus puncak panen yang terjadi pada Juli–Agustus. Kondisi tersebut membuat pasokan bahan baku sawit meningkat sehingga harga TBS tidak sepenuhnya mengikuti kenaikan harga CPO di pasar global.

“Pemicu penurunan TBS (tandan buah segar) di bulan Agustus tidak terlepas dari siklus puncak panen yang terjadi pada bulan Juli–Agustus. Sehingga sekalipun harga CPO naik, namun stok CPO di tanah air melimpah,” ujarnya.

Gunawan menilai kondisi tersebut menunjukkan bahwa persoalan utama bukan berada pada lemahnya harga CPO, melainkan pada mekanisme pembentukan harga TBS di dalam negeri.

“Saya menilai posisi stok barang di tanah air alami peningkatan di tengah kenaikan harga CPO itu sendiri. Yang berarti pemicu penurunan harga TBS ataupun NTP lebih dikarenakan pembentukan harga TBS di tanah air,” katanya.

Sementara itu, indeks harga yang diterima petani perkebunan rakyat secara bulanan juga tercatat turun sekitar 0,04%. Artinya, kenaikan harga komoditas sawit belum sepenuhnya memberikan dampak positif terhadap pendapatan petani.

Meski demikian, Gunawan melihat penurunan NTP tersebut belum menunjukkan adanya persoalan fundamental yang serius. Data produksi minyak kelapa sawit mulai memasuki tren penurunan pada Agustus, baik akibat berkurangnya kuantitas TBS maupun perubahan rendemen atau tingkat konversi TBS menjadi CPO.

“Sehingga penurunan NTP untuk tanaman perkebunan rakyat lebih bersifat sementara, bukan masalah gangguan fundamental yang serius,” katanya.

Ke depan, peluang pemulihan harga TBS maupun NTP petani sawit masih terbuka. Salah satu penopangnya adalah tingginya permintaan CPO dari India, sementara pasokan CPO berpotensi mengalami penurunan.

Kondisi tersebut berpeluang kembali mendorong harga CPO untuk menguji level psikologis 5.000 ringgit per ton.

“Harga TBS maupun CPO masih berpeluang naik kedepan, sejalan dengan tingginya permintaan dari India ditambah pasokan CPO yang berpeluang alami penurunan. Diproyeksikan harga CPO masih akan terus mencoba untuk kembali menguji level psikologis 5.000 ringgit per ton,” ujarnya.

Dengan prospek tersebut, NTP petani perkebunan rakyat juga berpeluang kembali pulih. Namun, pemulihan tersebut tetap bergantung pada stabilitas harga yang diterima petani dan tidak terjadinya lonjakan signifikan pada biaya yang harus dibayarkan petani.

“Jadi NTP petani juga memiliki potensi alami pemulihan selama tidak ada lonjakan signifikan pada indeks harga yang dibayar petani,” katanya.

Kondisi ini sekaligus memperlihatkan bahwa kenaikan harga CPO di pasar tidak otomatis berarti peningkatan pendapatan petani sawit. Besarnya pasokan saat musim panen dan mekanisme pembentukan harga TBS di tingkat domestik tetap menjadi faktor penting yang menentukan seberapa besar manfaat kenaikan harga CPO benar-benar dirasakan petani. (R)

Share: