JAKARTA, Index Sumut – Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkap kondisi kelas menengah Indonesia yang masih menghadapi tekanan ekonomi. Di tengah besarnya anggaran pemerintah untuk membantu kelompok masyarakat berpendapatan rendah, kelas menengah disebut belum banyak mendapat alokasi bantuan.
Purbaya menilai, pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi menjadi salah satu kunci untuk memperbaiki kondisi kelompok tersebut. Pasalnya, pertumbuhan ekonomi yang kuat diharapkan mampu menciptakan lebih banyak lapangan kerja formal sekaligus meningkatkan pendapatan masyarakat kelas menengah.
Menurut Purbaya, pemerintah selama ini memberikan perhatian besar kepada masyarakat kelompok bawah melalui berbagai program subsidi. Kebijakan tersebut ditujukan agar kelompok rentan tetap mampu bertahan dan menjalankan aktivitas ekonomi.
“Kalau kita ini ya yang bawah kita keluarkan anggaran cukup besar untuk supaya mereka bisa terus bertahan di ekonomi ini. Untuk subsidi BBM saja kita keluarkan Rp500 triliun lebih, subsidi non-BBM hampir sama Rp540 triliun untuk pendidikan lain-lain,” jelas Purbaya dalam Sarasehan 100 Ekonom Indonesia, di Grand Ballroom Kempinski, Jakarta, Kamis (3/9/2026).
Namun, besarnya alokasi subsidi tersebut belum secara langsung menyasar kelas menengah. Kondisi itu, menurut Purbaya, ikut membuat pendapatan kelompok kelas menengah mengalami tekanan.
“Jadi subsidi dari pemerintah cukup besar pemerintah tidak pernah melupakan masyarakat yang membutuhkan. Cuma pertanyaannya sekarang kelas menengah enggak dapat, begitu kan, kelas menengah pendapatannya turun. Ya itulah makanya kita ciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih cepat,” tutur dia.
Pertumbuhan di Bawah 5% Picu Deindustrialisasi
Purbaya menilai tantangan kelas menengah tidak bisa dilepaskan dari kondisi pertumbuhan ekonomi. Menurut perhitungannya, pertumbuhan ekonomi di bawah 5% berisiko memicu deindustrialisasi.
Kondisi tersebut kemudian berdampak terhadap penciptaan lapangan kerja formal. Karena itu, pemerintah mengejar target pertumbuhan ekonomi hingga 8% secara bertahap agar ruang penciptaan lapangan kerja semakin besar.
Purbaya menjelaskan, pertumbuhan ekonomi di kisaran 6%-6,5% sudah dapat menjadi pijakan untuk menciptakan lapangan kerja formal baru secara berkelanjutan.
“Tujuannya apa? Kita tuh bisa menciptakan lapangan kerja formal yang berkesinambungan kalau tumbuh di atas 6 di atas 6,5 lah kira-kira itu. Kita akan bergerak ke arah sana sekarang untuk memastikan pertumbuhan ekonominya bisa menciptakan lapangan kerja formal,” ujarnya.
Dengan semakin banyaknya lapangan kerja formal, Purbaya berharap pendapatan masyarakat kelas menengah kembali meningkat. Pertumbuhan tersebut juga diharapkan melahirkan kelompok kelas menengah baru.
“Nanti pelan-pelan lapangan kerja formal kalau tercipta kalau kita tumbuh lebih cepat dari 6 lapangan kerja tercipta, itu pendapatan masyarakat menengah meningkat tercipta masyarakat menengah baru,” imbuh dia.
Hilirisasi Jadi Penggerak Industri
Untuk mencapai target tersebut, pemerintah akan mendorong transformasi ekonomi dengan kembali menggerakkan sektor industri. Salah satu strategi yang disiapkan adalah memperkuat program hilirisasi.
Purbaya berharap berbagai program tersebut mulai memberikan dampak terhadap pemulihan kelas menengah dalam satu hingga dua tahun mendatang.
“Sekarang kita akan coba hidupkan dengan macam-macam program termasuk hilirisasi. Oke jadi ke depan mungkin setahun dua tahun kita akan harapkan masyarakat menengah kita semakin tumbuh lagi,” ujar dia. (Lip6)





