TAPANULI SELATAN, Index Sumut – PT PLN (Persero) melalui Unit Induk Pembangunan Sumatera Bagian Utara (UIP SBU) terus bersinergi dengan pemerintah dan PT North Sumatera Hydro Energy (NSHE) untuk mengawal penyelesaian Pembangkit Listrik Tenaga Air (PLTA) Batang Toru berkapasitas 510 megawatt (MW). Proyek Strategis Nasional (PSN) ini diharapkan memperkuat keandalan pasokan listrik Sumatera sekaligus mendukung percepatan transisi energi bersih di Indonesia.
Komitmen tersebut mengemuka dalam kunjungan lapangan penyelesaian PLTA Batang Toru pada 9 Oktober 2026. Kegiatan ini meninjau area bendungan dan waduk sekaligus membahas kesiapan tahapan proyek menuju pengoperasian. Kunjungan dipimpin Wakil Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), Yuliot Tanjung, sebagai tindak lanjut kunjungan sebelumnya pada 30 Juli 2026.
Turut hadir Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra; perwakilan General Manager PLN UIP SBU, Rizal Hikmahtiar; Direktur Utama NSHE, Ye Ling; perwakilan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, H. Jafar Syahbuddin Ritonga, M.B.A., D.B.A.; serta perwakilan kementerian dan lembaga terkait.
Dengan nilai investasi sekitar Rp21,6 triliun, PLTA Batang Toru merupakan proyek pembangkit berkapasitas total 510 MW yang terdiri atas empat unit, masing-masing berkapasitas 127,5 MW.
Sebagai pembangkit berbasis energi baru terbarukan (EBT), PLTA Batang Toru memiliki peran strategis dalam meningkatkan pemanfaatan energi bersih, mendukung transisi energi nasional, serta berkontribusi terhadap pencapaian target bauran energi nasional.
Kehadirannya juga diharapkan memperkuat pasokan listrik untuk mendukung aktivitas masyarakat dan pertumbuhan ekonomi di Sumatera.
Proses penggenangan waduk dimulai sebagai salah satu tahapan penting dalam rangkaian penyelesaian proyek. Tahapan ini dilanjutkan dengan pengujian instrumen dan fasilitas pembangkit untuk memastikan kesiapan teknis sebelum proses penyambungan ke jaringan listrik PLN dan pemenuhan persyaratan penerbitan Sertifikat Laik Operasi (SLO).
Wakil Menteri ESDM, Yuliot Tanjung, menekankan bahwa percepatan penyelesaian proyek harus diiringi dengan pemenuhan persyaratan teknis, keselamatan ketenagalistrikan, dan ketentuan lingkungan.
“Penyelesaian PLTA Batang Toru perlu terus dipercepat dengan memastikan setiap tahapan berjalan secara terencana. Kesiapan fasilitas, pengujian instrumen dan peralatan, serta pemenuhan persyaratan sebelum pembangkit beroperasi harus menjadi perhatian bersama agar target penyelesaian dapat tercapai,” ujar Yuliot.
Selain kesiapan teknis, aspek lingkungan juga menjadi perhatian dalam penyelesaian proyek, termasuk pemantauan kondisi kawasan hutan dan daerah aliran sungai (DAS). Koordinasi lintas instansi serta tindak lanjut terhadap kewajiban lingkungan menjadi bagian penting untuk memastikan seluruh tahapan berjalan sesuai ketentuan yang berlaku.
Direktur Teknologi, Engineering, dan Keberlanjutan PT PLN (Persero), Edwin Nugraha Putra, menyampaikan bahwa PLN terus melakukan pemantauan terhadap perkembangan proyek hingga pembangkit siap beroperasi.
“PLN secara berkelanjutan memantau progres penyelesaian PLTA Batang Toru untuk memastikan setiap tahapan berjalan sesuai rencana dan kesiapan teknis terpenuhi. Pengawalan ini penting agar proses menuju pengoperasian pembangkit terlaksana dengan baik, aman, dan sesuai ketentuan yang berlaku,” ungkap Edwin.
Sejalan dengan hal tersebut, PLN UIP SBU memperkuat sinergi dengan NSHE dan seluruh pemangku kepentingan untuk mengawal penyelesaian pekerjaan sesuai target dan lini masa yang telah ditetapkan. Koordinasi ini juga diarahkan untuk memastikan pemenuhan persyaratan operasi dapat berjalan sesuai rencana.
Perwakilan General Manager PLN UIP SBU, Rizal Hikmahtiar, menegaskan komitmen PLN UIP SBU dalam mendukung penyelesaian proyek melalui kolaborasi yang berkelanjutan dengan NSHE dan seluruh pihak terkait.
“PLN UIP SBU terus bersinergi dengan NSHE dan seluruh pemangku kepentingan agar setiap tahapan penyelesaian PLTA Batang Toru berjalan sesuai lini masa yang telah ditetapkan. Kami berkomitmen mengawal proses ini sehingga seluruh persyaratan dapat dipenuhi dan SLO ditargetkan terbit pada tahun 2026. Dengan demikian, pembangkit ini diharapkan dapat segera memberikan kontribusi bagi keandalan pasokan listrik Sumatera sekaligus mendukung pemanfaatan energi bersih,” ujar Rizal.
Direktur Utama NSHE, Ye Ling, menyampaikan apresiasi atas kunjungan dan arahan pemerintah serta PLN. NSHE berkomitmen untuk menindaklanjuti arahan yang diberikan dan terus berkoordinasi dengan PLN serta instansi terkait guna mendukung kelancaran penyelesaian proyek.
Dukungan juga disampaikan perwakilan Pemerintah Kabupaten Tapanuli Selatan, H. Jafar Syahbuddin Ritonga, M.B.A., D.B.A., yang mengapresiasi sinergi seluruh pihak dalam mengawal pembangunan PLTA Batang Toru. Pemerintah daerah berharap keberadaan pembangkit ini nantinya dapat mendorong pertumbuhan ekonomi, membuka peluang usaha, serta mendukung pemulihan aktivitas masyarakat pascabencana.
Melalui kolaborasi pemerintah, PLN, NSHE, dan seluruh pemangku kepentingan, penyelesaian PLTA Batang Toru sebagai PSN yang dibangun oleh IPP (Independent Power Producer) ini diharapkan berjalan sesuai target dengan tetap mengutamakan kesiapan teknis, keselamatan, dan kepatuhan terhadap ketentuan lingkungan.
Ketika beroperasi, pembangkit ini diharapkan menjadi salah satu penopang keandalan pasokan listrik Sumatera sekaligus memperkuat pemanfaatan energi terbarukan dalam mendukung transisi energi bersih dan pembangunan berkelanjutan di Indonesia. (R)





