MEDAN, Index Sumut – Tekanan terhadap pasar keuangan global kembali meningkat seiring lonjakan harga minyak mentah dunia yang dipicu eskalasi konflik di Timur Tengah. Kondisi tersebut turut membayangi pergerakan rupiah yang melemah ke level Rp18.095 per dolar AS, sementara harga emas dunia terkoreksi hingga US$3.993 per troy ounce.

Pengamat Ekonomi Sumut, Gunawan Benjamin mengatakan, kenaikan harga minyak mentah dunia menjadi salah satu faktor yang memperburuk sentimen pasar keuangan. Pada perdagangan pagi ini, harga minyak mentah dunia menguat ke level US$114,9 per barel, sedangkan minyak jenis Brent sempat menyentuh US$117 per barel pada akhir pekan lalu.

“Lompatan pada harga minyak mentah masih dipicu oleh eskalasi konflik yang meningkat di kawasan Timur Tengah,” ujar Gunawan, Senin (26/10).

Menurutnya, perkembangan geopolitik tersebut menjadi perhatian pelaku pasar karena berpotensi memengaruhi pergerakan harga komoditas, nilai tukar, hingga pasar saham. Kenaikan harga minyak juga menambah ketidakpastian terhadap prospek ekonomi global.

Di tengah kondisi tersebut, rupiah kembali mengalami tekanan. Pelemahan mata uang Garuda bahkan terjadi ketika imbal hasil US Treasury menurun dan indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY) terkoreksi ke level 101,5.

“Rupiah kembali alami tekanan di tengah memburuknya sentimen pasar saat ini. Padahal imbal hasil US Treasury alami pelemahan dan USD Index juga terpantau turun ke level 101,5,” kata Gunawan.

Ia menilai, tekanan terhadap pasar keuangan domestik tidak hanya berkaitan dengan perkembangan eksternal. Ketidakpastian terkait evaluasi Morgan Stanley Capital International (MSCI) terhadap pasar saham Indonesia juga masih membayangi pergerakan aset keuangan nasional.

“Bayang-bayang MSCI masih menghantui rupiah sejauh ini di tengah kenaikan harga minyak mentah dunia,” ujarnya.

IHSG Masih Berpeluang Berbalik Menguat

Di pasar saham, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) membuka perdagangan di level 5.442. Namun, indeks sempat berbalik melemah hingga menyentuh level terendah 5.405.

Pergerakan tersebut berlangsung ketika mayoritas pasar saham di kawasan Asia cenderung melemah. Meski demikian, Gunawan melihat peluang IHSG untuk bergerak berbeda dari bursa regional masih terbuka.

Menurutnya, pasar saham domestik masih menunggu langkah konkret otoritas bursa dalam merespons persoalan yang berkaitan dengan MSCI. Ketidakpastian tersebut berpotensi membuat pergerakan IHSG tetap berfluktuasi dalam jangka pendek.

“IHSG masih berpeluang untuk bergerak anomali dibandingkan dengan mayoritas bursa saham di Asia. Dan pola pergerakan IHSG masih memperlihatkan adanya tekanan di sesi perdagangan pagi, meskipun berbalik arah setelahnya,” jelasnya.

Gunawan menambahkan, pola pelemahan pada awal perdagangan yang kemudian diikuti pembalikan arah telah terlihat dalam beberapa hari perdagangan sebelumnya. Pola serupa juga masih tampak pada perdagangan kali ini.

“Pola tersebut sudah terjadi di beberapa hari perdagangan sebelumnya, dan sejauh ini pola pembalikan arah juga masih terlihat sehingga peluang IHSG untuk ditutup menguat pada dasarnya masih terbuka,” ungkap Gunawan.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa peluang penguatan tersebut belum dapat dipastikan sepenuhnya. Pergerakan indeks masih akan dipengaruhi perkembangan sentimen global serta respons investor terhadap ketidakpastian di pasar keuangan domestik.

Keputusan The Fed dan Data Inflasi AS Jadi Perhatian

Selain perkembangan geopolitik dan persoalan MSCI, pelaku pasar juga akan mencermati sejumlah agenda ekonomi Amerika Serikat dalam sepekan ke depan.

Agenda tersebut meliputi data kepercayaan konsumen, penjualan barang tahan lama, klaim pengangguran mingguan, serta keputusan suku bunga acuan bank sentral AS atau Federal Reserve (The Fed).

Gunawan mengatakan, berdasarkan proyeksi yang menjadi perhatian pasar, The Fed diperkirakan mempertahankan suku bunga acuannya di level 4 persen. Namun, perhatian investor tidak hanya tertuju pada keputusan suku bunga, melainkan juga pada perkembangan inflasi AS.

“Dan yang tak kalah penting lainnya, AS juga akan merilis data inflasi yang akan menentukan pergerakan pasar selanjutnya,” ujarnya.

Data inflasi tersebut akan menjadi salah satu indikator penting bagi pelaku pasar dalam membaca arah kebijakan moneter AS berikutnya. Perkembangan kebijakan The Fed selanjutnya dapat memengaruhi pergerakan dolar AS, imbal hasil obligasi pemerintah AS, serta arus modal di pasar negara berkembang, termasuk Indonesia.

Sementara itu, harga emas dunia turut mengalami koreksi ke level US$3.993 per troy ounce atau setara sekitar Rp2,33 juta per gram berdasarkan estimasi yang disampaikan dalam materi perdagangan.

Koreksi emas di tengah meningkatnya ketidakpastian global menunjukkan bahwa pergerakan komoditas tersebut tetap dipengaruhi berbagai faktor pasar. Selain risiko geopolitik, arah dolar AS, imbal hasil obligasi, dan ekspektasi suku bunga juga menjadi perhatian investor.

Dengan kombinasi kenaikan harga minyak, tekanan terhadap rupiah, koreksi emas, serta ketidakpastian di pasar saham, pelaku pasar diperkirakan masih akan mencermati perkembangan global dan domestik secara hati-hati dalam beberapa hari ke depan. (R)

Share: