MEDAN, Index Sumut – Memanasnya tensi geopolitik global kembali memberikan tekanan terhadap pasar keuangan. Kondisi tersebut turut memengaruhi pergerakan nilai tukar Rupiah serta harga emas dunia yang bergerak terbatas di tengah meningkatnya ketidakpastian.
Pengamat Pasar Keuangan Sumatera Utara, Gunawan Benjamin mengatakan, sentimen dari Amerika Serikat masih menjadi perhatian utama pelaku pasar. Data serapan tenaga kerja AS di luar sektor pertanian (non-farm payroll) pada Desember tercatat hanya mencapai 41 ribu, lebih rendah dibandingkan ekspektasi pasar sebesar 49 ribu.
“Data ketenagakerjaan AS ini memperkuat narasi bahwa The Fed masih memiliki ruang untuk melonggarkan kebijakan moneternya, termasuk peluang pemangkasan suku bunga ke depan,” ujar Gunawan, Kamis (8/1/2026).
Meski demikian, kinerja pasar saham di Amerika Serikat pada perdagangan sebelumnya justru mengalami koreksi. Sementara bursa saham Asia bergerak mixed dengan kecenderungan melemah. Di tengah kondisi tersebut, Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada sesi pembukaan perdagangan tercatat menguat ke level 8.946.
Gunawan menyebutkan, pelaku pasar saat ini cenderung menahan diri sambil menanti rilis data cadangan devisa oleh Bank Indonesia. “Data cadangan devisa lebih berpotensi memengaruhi pergerakan Rupiah dibandingkan IHSG,” katanya.
Pada perdagangan pagi ini, nilai tukar Rupiah terpantau melemah ke level 16.790 per dolar AS. Tekanan terhadap Rupiah dan IHSG diperkirakan masih berlanjut seiring dengan meningkatnya tensi geopolitik global.
“Situasi geopolitik yang memanas, mulai dari kabar penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro hingga rencana Presiden AS terkait aneksasi wilayah Greenland, menjadi sumber ketidakpastian baru bagi pasar,” jelas Gunawan.
Menurutnya, meskipun sebagian pelaku pasar menilai isu Greenland hanya bagian dari strategi negosiasi Amerika Serikat terhadap Denmark, sentimen tersebut tetap berpotensi memicu volatilitas di pasar keuangan dan komoditas.
Di sisi lain, harga emas dunia terpantau bergerak stabil cenderung melemah tipis di level 4.458 dolar AS per ons troy atau sekitar Rp2,41 juta per gram.
“Secara fundamental, emas masih memiliki peluang untuk menguat dalam jangka menengah, mengingat kondisi politik global yang belum stabil dan ketidakpastian yang masih tinggi,” pungkas Gunawan. (R)





